Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2020

Lelaki Qulhu, Biarkan Istrimu Jadi Imam!

Gambar
Kabarnya, banyak laki-laki yang gundah gulana akibat larangan taraweh di masjid. Pasalnya, taraweh di rumah itu memaksanya menjadi imam. Padahal, ia cuma hapal sedikit ayat-ayat pendek dalam al-Qur'an. Untuk bisa menjadi imam Maghrib, Isya', dan Subuh saja sudah butuh minimal 6 surat pendek, apalagi kalau harus salat taraweh. Duh. Bekal qulhu yang selama ini dimiliki nggak bakal cukup untuk jadi imam. Tetapi, ada beberapa solusi yang bisa dilakukan oleh para "lelaki qulhu" ini. Pertama, ikutlah cara para kiai langgar NU. Meskipun kami salat 20 rakaat, sebagian dari kami tidak perlu hafalan banyak-banyak. Yang standar, membaca qulhu di setiap rakaat kedua. Jadi, walaupun salat 20 rakaat, yang dibaca cuma at-Takatsur sampai al-Lahab. Kalau dipakai salat versi Muhammadiyah yang 8 rakaat, kita cuma butuh hafal 4 surat pendek saja. Nah, kalau mau lebih cepat dan tidak oon amat, gantilah surat al-ikhlas itu dengan membaca Yasin dan Nun. Bukan satu surat, tetapi cukup...

Mukjizat versus Kreasi

Gambar
Maaf ya agamawan, sedih saya melihat agama hanya digunakan untuk mendukung fatalisme. Saya lihat kemarin ada video viral oleh seorang yang mengatasnamakan agama untuk mengritik sikap kita yang terlalu percaya kepada sains. Ramadan masih jauh, katanya, ulama NU dan Muhammadiyah sudah berfatwa taraweh di rumah saja. Orang itu kurang lebih mengatakan begini, "Bukannya saya tidak percaya pada sains, tetapi salahkah saya berharap keajaiban? Salahkan kita jika berharap dengan doa Corona bisa sirna?" Kalau orang itu ada di hadapan saya, pasti langsung saya jawab: "Salah!" Anda tidak bisa percaya dua hal sekaligus: percaya pada sains dan percaya pada mukjizat! Jika Anda percaya bisa menghadirkan mukjizat, Anda pasti tidak mau repot-repot penelitian, kerja keras memburu virus dan vaksinnya. Kepercayaan kita pada mukjizat hanya kita batasi ( on a limited edition ) kepada para Nabi. Mukjizat itu bukan sesuatu yang bisa diharapkan terjadi pada kita. Kita ini siapa be...

Kaum Murabihun

Gambar
Ini tulisan iseng kaum murabihun yang harus segera ditumpahkan sebelum Ramadan tiba. Agar nanti bisa fokus ngibadah dan tidak menjadi kaum mutadadirun  (tukang tidur-tiduran) selama puasa. Sebagaimana kaum murabihun (orang-orang yang rebahan), saya lebih banyak menggunakan waktu untuk mengkonsumsi daripada memproduksi. Konsumsi saya yang paling banyak tentu saja tentang wabah ini. Pagi sore siang malam, nyaris tidak ada waktu yang terlewat tanpa konsumsi informasi seputar Covid-19. Informasi terbanyak adalah dari Smart TV. Saya bikin playlist di Youtube dan IPTV  untuk chanel-chanel berita: mulai dari CNN, ABC, Euronews, CNA, Arirang, SGTN, DW, French 24, Skynews, sampai dengan Aljazeera dan RT. Keuntungan kaum murabihun dibanding dengan para pejabat yang super sibuk adalah konsumsi informasi yang lebih banyak. Saya yakin, saya punya lebih banyak waktu dan menghabiskan waktu menonton berita Covid-19 dari berbagai penjuru dunia lebih banyak dari para menteri dan...

Kartini

Gambar
"Kartini", demikian nama aslinya -- Raden Adjeng adalah sebuah gelar -- menulis surat untuk untuk teman-temannya yang orang Belanda dalam bahasa Belanda. Di rumahnya, ia berbicara dalam bahasa Jawa. Kartini itu orang Jawa tulen yang sangat mencintai negeri dan rakyatnya, maupun pakaian dan adat istiadatnya. Kartini tidak berkesempatan melihat buah perjuangannya dalam sepuluh tahun terakhir (1910an). Saat ini ada banyak sekali "Sekolah Kartini" di seluruh Jawa. Pengaruh kehidupan dan ajarannya mungkin lebih besar daripada wanita modern mana pun karena pengaruhnya yang mencapai tiga puluh delapan juta orang Jawa dan meluas sampai batas tertentu di seluruh Timur. Kartini tidak ingin membuat orang Jawa menjadi orang Eropa palsu. Ia ingin mereka menjadi orang Jawa yang lebih baik. Ia tidak memperjuangkan kemerdekaan material yang selama tiga ratus tahun kekuasaan Belanda atas orang Jawa terkadang memicu perang berdarah-darah, tetapi yang lebih penting adalah kem...

Anda lebih suka narasi mana?

Gambar
Ada sebuah grafik viral di WAG dan Facebook yang membahagiakan banyak orang. Seperti dikatakan pembuat grafik itu, "kurva pertumbuhan penderita Covid di Indonesia mulai melandai". Alhamdulillah! *** Awalnya, saya ingin menanggapi kabar itu dengan melihat pada dua aspek: pertama, data yang kurang bisa dipercaya [1] dan faktor non-data yang diabaikan oleh si penulis. Misalnya, diabaikannya faktor "kemampuan test" yang dimiliki oleh Indonesia. Faktor kemampuan tes ini ada di luar data statistik yang dipublikasi, tetapi sangat signifikan dalam menentukan data. Menurut berbagai sumber yang saya kumpulkan, rata-rata kemampuan tes kita sehari di bawah 300 sampel (ada yang menyebut 200, 240, 290). Lihat referensi [2], [3], [4], [5] Katakanlah, kita ambil 300. Dengan kemampuan ini maka jumlah kasus positif yang akan ditemukan maksimal 300 kasus per hari. Ini angka yang juga mustahil secara statistik. Kalau sampel 300, ya paling ketemu cuma 150 kasus per hari...

Lagu Tala'al al-Badru dan Tesis Dan Gibson

Gambar
Peta Perang Khandaq dan Lokasi Tsyaniyya al-Wada'.  Salah satu cara saya menguji tesis Dan Gibson adalah dengan melihat peta Madinah dan peristiwa historis yang kita ketahui. Saat saya mengecek kembali posisi parit yang dibangun di utara kota Madinah, saya justru menemukan fakta baru yang menarik di peta itu: lokasi Tsaniyah al-Wada' . Di peta Perang Khandaq ini, Anda bisa lihat parit Madinah digali dari bukit di sebelah timur (Bukit Waqim) ke bukit di sebelah barat (Bukit Wabarrah). [1]   Di ujung utara bukit di sebelah barat Madinah tertulis ada Tsaniyyah al-Wada' di situ (diberi kotak warna merah). Tsaniyyah dalam bahasa Arab artinya adalah celah yang membelah bukit dan menjadi semacam gang sempit yang digunakan oleh orang untuk keluar-masuk sebuah kota/pemukiman. Bagi kita orang Islam, Tsaniyyah al-Wada' ini sangat populer karena disebutkan dalam lagu Thala'a al-Badru yang konon dinyanyikan para wanita Madinah untuk menyambut kedatangan Nabi saat hijra...

Tentang Dan Gibson

Gambar
Saya sebenarnya tidak berniat memberikan tanggapan tentang siapa Dan Gibson. Tetapi karena ada orang yang mementahkan sebuah argumen hanya semata-mata yang mengatakan ini adalah Dan Gibson, maka saya kira perlu untuk menanggapinya dulu. *** Pertama, Gibson memang bukan akademisi kampus. Menurut videonya sendiri, dia hanya kebetulan lahir dan besar di keluarga akademik (saya lupa dosen atau bukan bapak dan kakeknya itu), tetapi yang jelas ada koleksi buku yang berlimpah di rumahnya. Menurut salah satu pengamat dalam video yang saya tonton di Youtube, "Dan itu mirip Indiana John! Petualang dan bukan orang kantoran." Gibson beberapa tahun tinggal bersama orang Badui, bolak-balik ke Petra, mengunjungi sejumlah situs masjid dan kuburan untuk mencari bukti-bukti arkeologis. Berapa dari kita, orang Islam, yang melakukan riset lapangan Timur Tengah sebanyak dia? Tetapi apakah hanya karena dia bukan dosen dia tidak layak didengar pendapatnya? Salah satu lawan debatnya, David K...

Jika Petra adalah Makkah (Bakkah)

Gambar
wikipedia Ketika saya nonton video Dan Gibson, respon pertama saya adalah gembira. Saya tidak khawatir apa pun terkait iman, keaslian Islam, atau hal-hal sakral lainnya. Sejauh yang saya rasakan, saya justru memperoleh keasyikan beragama lewat diskusi-diskusi historis dan kontekstual karena diskusi itu membantu menentramkan aspek spiritual saya. Ajaran agama hanya bisa dimaknai dengan baik jika kita paham konteks "aslinya". Cara kita beragama juga bisa menjadi "lebih manusiawi" ketika kita tahu manusia-manusia yang melahirkan agama yang sekarang kita yakini. Maka, mengetahui "Mekkah" yang asli, atau diduga asli, juga membantu menentramkan keagamaan saya. Jujur saja, sebagai orang yang beragama karena keturunan, terlalu banyak aspek beragama kita itu yang kita terima begitu saja, taken for granted . Ketika pendidikan kita merangkak, ketika bacaan kita lebih banyak, ketika kontak kita dengan peradaban lain bertambah, kadang apa yang kita yakini begi...

Mekkah Bukan "Kota Suci" (2)

Gambar
Sebelum melanjutkan "ngaji" kita tentang tesis Dan Gibson, saya akan selesaikan seluruh argumen dia yang meragukan "Mekah" sebagai kota suci di bagian ini. Untuk argumen dia tentang "Petra" sebagai kota asli, silakan cek sendiri videonya ya. Saya akan memilih untuk membuat tulisan respon saja terhadap tesis yang dia ajukan sesudah kita selesaikan bagian ini. Berikut ini adalah argumen lengkapnya: ----------- 5. Pegunungan Mekkah sepertinya tidak mirip dengan yang digambarkan dalam sejarah penyerbuan Tentara Gajah. Dalam kisah itu disebutkan para penduduk mengawasi dari bukit-bukit sekitar Makkah. Kalau mekkah yang sekarang, bukitnya jauh sekali, sekitar 3 KM. Demikian pula dengan apa yang sekarang kita sebut sebagai Bukti Safa dan Marwa. Bukit itu terlalu kecil untuk disebut bukit yang dalam gambaran-gambaran klasik seperti memerlukan usaha ekstra untuk bisa berlari menunaikan sai di situ. 6. Menurut deskripsi literatur Hadits, Makkah itu digamba...

Mekkah bukan "Kota Suci" (1)

Gambar
Tanpa sengaja, tadi siang saya menemukan video menarik ini. Anak saya yang ragil suka sekali minta saya dampingi untuk nonton video-video sejarah di Youtube. Ia minta didampingi karena material sejarah di Youtube yang berkualitas kebanyakan dalam bahasa Inggris yang belum bisa ia akses. Saya klik sebuah video tentang sejarah Mesir kuno, maunya, tetapi yang saya pencet malah video tentang kota suci Mekkah yang awalnya saya skip. Mecca is too well known , kurang lebih begitu alasannya untuk skip. Kecuali bahwa dari pengantarnya, saya langsung terpaku untuk mencermati dan batal untuk menonton video tentang Mesir kuno itu. Judulnya saja menantang, "Have we got it wrong?" Jangan-jangan "Mekah" yang asli bukan yang sekarang kita jadikan arah salat setiqap hari! Maka, akhirnya, saya nonton video ini sampai tamat, sambil terus menerjemahkan dan menjelaskan kepada si ragil tentang teori yang ditawarkan Dan Gibson: Mekkah yang asli itu adalah Petra di Yordania. Argum...