Jika Petra adalah Makkah (Bakkah)

wikipedia

Ketika saya nonton video Dan Gibson, respon pertama saya adalah gembira. Saya tidak khawatir apa pun terkait iman, keaslian Islam, atau hal-hal sakral lainnya. Sejauh yang saya rasakan, saya justru memperoleh keasyikan beragama lewat diskusi-diskusi historis dan kontekstual karena diskusi itu membantu menentramkan aspek spiritual saya. Ajaran agama hanya bisa dimaknai dengan baik jika kita paham konteks "aslinya". Cara kita beragama juga bisa menjadi "lebih manusiawi" ketika kita tahu manusia-manusia yang melahirkan agama yang sekarang kita yakini.

Maka, mengetahui "Mekkah" yang asli, atau diduga asli, juga membantu menentramkan keagamaan saya. Jujur saja, sebagai orang yang beragama karena keturunan, terlalu banyak aspek beragama kita itu yang kita terima begitu saja, taken for granted. Ketika pendidikan kita merangkak, ketika bacaan kita lebih banyak, ketika kontak kita dengan peradaban lain bertambah, kadang apa yang kita yakini begitu saja waktu kecil menjadi semacam duri dalam daging keagamaan kita. Menemukan fakta baru, rasanya seperti menemukan tlusup yang selama ini menyakiti kita.

***

Selesai nonton video, saya segera teringat dua hal dari waktu Umroh dua tahun lalu yang kini mungkin relevan untuk dibicarakan lagi. Pertama, ini agak rahasia... saya merasa bahwa ada perasaan yang jauh berbeda antara antara datang ke Madinah dengan datang ke Makkah. Tiba di Madinah, saya merasa haru. Melihat Masjid Nabawi, saya merasa kembali ke zaman Nabi. Aura religi Madinah terasa sekali.

Berbeda halnya dengan Mekkah. Saya ingat betul ketika sopir bus yang saya tumpangi dari Madinah menunjukkan Tower Zam-zam sebagai penanda bahwa kami sudah dengan dengan Masjidil Haram. Gedung-gedung yang angkuh tinggi menjulang itu seperti mengecilkan keagungan Ka'bah. Kalau Hamka menulis "Di bawah Lindungan Ka'bah", ini malah "Ka'bah di bawah Lindungan Mall dan Tower Zam-zam".

Ketika orang sujud menangis di depan Ka'bah malam itu, saya malah bengong kehilangan pijakan. Tentu saya terharu di depan Ka'bah, tetapi saya merasa ada yang hilang secara ruhani. Apakah sekali lagi karena pencakar langit di sekitar masjid dan menara-menara crane yang sedang membongkar Masjidil Haram, yang jelas ada yang hilang.

Maka, begitu ada dugaan bahwa Makkah yang sekarang bukan Makkah asli... secara alami saya perti menemukan jawaban atas misteri perjumpaan saya yang hampa itu. Jangan-jangan...

***

Kedua, ketika ziarah di tempat-tempat bersejarah di Madinah, saya heran tidak habis pikir. Apakah saya yang bingung? Google Map yang salah? atau mengapa parit (Khandaq) yang dibangun oleh Salman Al Farisi ada di utara kota Madinah. Saya tidak bisa bertanya ke siapa pun saat itu. Pertanyaan saya simpan dalam hati. Jadi duri. Kalau Makkah ada di arah selatan Madinah, mengapa Khandaq di sini. Saya perhatikan topografinya. Selatan kota Madinah itu relatif terbuka, tanpa perbukitan yang berarti. Kalau mau menyerang dari selatan, sangat mudah sekali. Jadi, strategi apa yang membuat Quraisy menyerang dari utara?

Kalau Mekkah itu Petra, maka misteri Khandaq di utara kota Madinah  terjawab sudah. Ya memang harus begitu. Musuh datang dari sebuah kota di utara Madinah, masak bikin parit di selatan?

***

Nah, itu dua poin respon personal dan spontan saya. Setelah itu saya mencoba mencari tahu siapa Dan Gibson dan membaca tiga bukunya: The Nabataeans Builders of Petra (2004), Qur’ānic Geography (2011), dan Early Islamic Qiblas (2017). Buku dia yang terakhir, menurut saya, adalah buku yang paling menarik. Di dalam tulisan saya sebelumnya, ada yang komentar bahwa dia tidak terlalu antusias lagi setelah tahu penulisnya siapa. Saya bukan orang yang demikian. Penulisnya penting diketahui sekedar untuk memastikan bahwa dia bukan tukang ngibul saja. Apalagi kalau dia ilmuwan akan lebih baik lagi. Tetapi yang lebih penting adalah argumennya. Meski kita terlambat tahu tesis yang menarik ini, saya kira tidak ada salahnya untuk terlambat merespon.

Siapa tahu, jika tesis itu terbukti, besok kita tidak perlu antri haji 20 tahun dan bisa ziarah ke Petra saja.

4 Komentar

  1. tolong dikaji dengan lbh teliti lg. di petra ada patung dan berhala, sementara semua berhala sdh nabi dan kaum muslimin hancurkan ketika fathul mekkah. mungkin kita sendiri yg harus mengakses kitab tarikh islam sirah nabawiyah, dan hadist2 terkait situasi mekkah. juga terutama pada claim kiblat. benarkah masjid awal berkiblat ke petra? secara struktur bangunan apakah masjid di madinah menghadap utara? terakhir, meski mendengar pesan itu penting tp kita diajar melihat siapa yg menyampaikan, sedangkan orang fasik saja harus tabayyun, apalagi non muslim. dan itu memainkan peran kesahihan melalui penelitian perawi. jd siapa yg menyampaikan menjadi lebih penting. semoga Allah memberi petunjuk.

    BalasHapus
  2. petra kota yg penuh mistery ya.. hingga sekarang menarik perhatian semua kalangan... saya pingin kesana nanti habis covid . penasaran ceritanya.. Salam

    BalasHapus
  3. Pemikiran yang sama.. Rasanya aneh banget kalau jalur perdagangan itu di mekah, mau kemana dan jalur perdagangan dari mana ke mana yg lewat sana, kalau petra memang masuk akal karena ditengah tengah.. Yg kedua kenapa tidak pernah ditemukan artefak atau apapun di mekah padahal pembangunan besar besaran disana, rasanya aneh kalau pernah ada perdaban besar disana, ah sudah lah.. Banyak lagi perasaan skeptis yg saya alami juga.. Saya juga sangat ingin mengunjungi Petra, semoga suatu saat kita bisa kesampaian kesana.. Aamiin

    BalasHapus
  4. pendapat Dan Gibson murni spekulatif. Bahasa yg digunakan Di Petra adalah bahasa Nabatean, cabang bhs Aramaic. Kalau Dan Gibson benar, maka Quran maupun hadis adalah berbahasa Nabatean/Aramaic. Tapi Quran maupun hadis adalah berbahasa Arab dengan dialect Hijaz /Mecca.

    BalasHapus

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama