Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2020

Hasan Aoni Aziz

Gambar
Sudah lama saya ingin menulis tentang orang-orang yang menginspirasi hidup saya sebagai rasa terima kasih dan apresiasi bahwa mereka pernah mengubah hidup saya. Jika tidak saya tulis, mungkin mereka tidak menyadarinya. Orang-orang itu kebanyakan bukan pahlawan seperti Diponegoro. Juga bukan tokoh politik berpengaruh seperti Sukarno, apalagi Suharto.  Inspirasi itu kadang dari orang biasa yang di mata saya luar biasa. Atau orang luar biasa yang tidak dikenal umum saja.  Salah satunya adalah tentang 'mas' ini. Sudah lama saya ingin menulisnya, mungkin dua tahun lalu atau kapan ketika saya terhubung kembali via Facebook. Tetapi selalu tertunda entah karena apa. Pas hari ini baca komentarnya di status Pakdhe Prie GS, yang berencana menulis tentang Cak Nun, keinginan saya untuk menulis tentang si mas muncul lagi. Tidak akan saya tunda karena seharusnya sudah lama saya melakukannya. Saya yakin Mas Aoni tidak kenal saya ketika itu. Saya juga yakin ia bahkan tak akan mengingat sosok s...

(Ingin) Husnul Khatimah

Gambar
Memimpin PLD hampir tujuh tahun, sebentar lagi saya akan mengakhiri masa pengabdian ini. Ruangan dan meja kantor, sudah nyicil dibersihkan. Kukutan membahagiakan. Waktunya pas sekali bagi saya sendiri. Kuliah sedang libur, Jurnal INKLUSI edisi semester pertama sudah terbit, Proceedings ICODIE sudah selesai, laporan kegiatan PLD 2019 juga sepertinya sudah selesai... apalagi? Tidak ada.  Hanya ada satu pekerjaan bonus yang dikerjakan karena kurang 'kerjaan saja': menulis bersama para dosen UIN Sunan Kalijaga tentang pengalaman mengajar difabel. 15-an dosen sudah setor tulisan dan saya sedang dalam proses menyuntingnya. Selebihnya? Bisa ditunda nanti kalau mau mengambil waktu sekarang untuk hal yang lain. Maka saya pilih untuk berdiam diri di rumah: menulis catatan akhir pengabdian agar saya husnul khatimah. Setahu saya, tidak ada kewajiban menulis laporan akhir jabatan di level jabatan serendah kepala PLD. Rektor mungkin punya, tetapi saya belum pernah membaca. Dekan... entahlah....

JAMAAH

Gambar
Kita mungkin adalah orang yang pernah dan selalu dididik untuk percaya kepada kebersamaan, kejamaahan . Tetapi kita sering melupakan kejamaahan. Sebagai muslim, kita diajari bahwa dalam jamaah terdapat berkah. Berkah itu ziyadah al-khair , tambahnya kebaikan. Dalam konteks ajaran ini, tidak ada yang salah dengan "sendirian". Salat sendiri itu sah. Makan sendiri juga boleh. Jamaah dan tidak itu bukan soal sah dan batal, tetapi soal tambahnya kebaikan .  Tambahnya kebaikan itu dalam agama kita bahkan sampai dikalkulasi secara matematis. Salat berjamaah pahalanya 27 kali lipat dari salat sendirian. Ada yang bilang 25 kali lipat. Tetapi yang penting sebenarnya bukan matematika 27 atau 25, tetapi keharusan kita percaya bahwa berjamaah itu membawa berkah, ziayadah al-khair  atau tambahnya kebaikan. Pada soal kualitas.  Entah di film atau di buku apa, saya pernah mendengar pepatah Afrika mengatakan, "kalau kau ingin pergi dengan cepat, jalanlah sendiri. Kalau kau ingin pergi ja...

Mengangkat Pamor Proceedings

Gambar
Sejak penyelenggaraan 2nd ICODIE akhir 2019 lalu, kami di PLD berkomitmen untuk mempublikasikan makalah-makalah yang disajikan dalam dua jenis publikasi: jurnal dan proceedings. Dari sekitar 30 penyaji, hampir semuanya mengirimkan full paper pada hari H konferensi. Dari full paper yang dipresentasikan, seperti yang sudah kami janjikan sebelum konferensi, kami memilih 5 paper terbaik untuk diterbitkan di Jurnal INKLUSI. Sisanya, kami berikan pilihan kepada para presenter untuk ditarik dan diterbitkan sendiri di tempat lain, atau mempercayakan kepada kami untuk publikasi di proceedings. Kami memberi pilihan karena "tradisi akademik" dan "birokrasi akademik" memang menempatkan proceedings sebagai publikasi "kelas 2". Dalam satu hal, klasifikasi ini bisa dimaklumi karena proceedings umumnya tidak melalui peer review seketat jurnal (theoretically speaking ya!). Oleh sebab itu, beberapa presenter ICODIE memang menarik naskahnya dan pilih terbit di tempat lain. A...

Etika Zoominar

Gambar
Seperti media baru pendahulunya, kita berduyun-duyun menggunakan Zoom tanpa benar-benar tahu Zoom ini makhluk apa dan harus dibagaimanakan. Maka muncullah banyak keluhan dan perilaku aneh dalam menggunakan Zoom. M isalnya, banyak yang belum bisa membedakan, secara teknis di Zoom, antara "meeting" dan "webinar"; perbedaan status "host", "participants", dan "attendees".  Pengetahuan teknis yang minim juga tampak di penyelenggara yang enggan belajar tetapi nekat menyelenggarakan. Misalnya, sering kita nemu flyer Zoom meeting yang harusnya untuk audien terbatas, tetapi passwordnya ikut disebarkan dalam flyer. Atau sebaliknya, Zoom terbuka untuk umum, tetapi disetting password juga. Dalam mengelola meeting/webinar,  juga banyak penyelenggara yang belum menguasai setting meeting yang nyaman: siapa boleh bicara, siapa boleh sharing screen , siapa boleh kirim chat, siapa boleh merekam, siapa boleh ganti nama, dst. Acara yang harusnya berbobot d...