Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2022

Panggung Sandiwara

Gambar
Saya sedang duduk di salah satu ruang sepi di Gereja Holy Sepulchre, mengganti lensa kamera. Lalu orang ini berhenti, "English?" Saya jawab, "English, Arabic, basic Spanish..." Ia lalu duduk di samping saya, mengajak kenalan. Nama, asal, dan di mana tinggal di sini. Ia sendiri dari Gazza. "Gazza is bad, too many Muslims..." dan seterusnya. Ia orang Katolik dan menekankan posisinya sebagai minoritas. Saya jadi tertarik untuk bertanya juga soal tawaran solusi satu negara untuk Arab dan Yahudi. Dia bilang, "Israel is good..." dst. Di tengah obrolan itu ia serahkan tasbih berbundel salib kepada saya. Sebagai hadiah katanya (lihat foto). Awalnya kami memang tak bicara soal agama. Begitu tahu saya muslim, ia tarik kembali hadiah itu. Ia juga mengubah ceritanya. "Di Gaza saya juga belajar Qur'an," akunya penuh semangat.

Najisnya Anjing

Gambar
Bagi kebanyakan kita, khususnya yang berlatar belakang lingkungan santri, anjing adalah hewan yang paling kita "takuti."  Pertama, entah Anda, tetapi waktu kecil dulu saya sering menyaksikan kekejian tetangga saya terhadap anjing liar. Di belakang rumahnya terdapat jebakan khusus anjing. Jika anjing itu terjebak di malam hari, paginya dibakar. Ngeri. Anjing itu seolah makhluk buas sekali, harus dibunuh.  Kedua, karena najisnya. Setiap ngaji Fikih, najis paling menakutkan adalah najis liur anjing yang diperluas ke seluruh tubuhnya kalau basah. Sudah agak lama saya mencoba mendidik diri untuk berubah setelah mengenal banyak teman (non-Muslim) yang memelihara anjing. Saya mencoba tidak lagi takut, sok akrab dengan anjing, dan memilih mazhab paling ringan dan mudah terkait definisi najis dan cara mensucikannya. Pas diundang ke rumah teman yang Yahudi itu misalnya, tentu saja saya harus kenalan dengan anjingnya. Anjingnya galak. Saya lihat sendiri, waktu ada tamu baru datang, ia b...

Ujian Tesis Mahasiswa Tuli di UIN Sunan Kalijaga

Gambar
Hari ini saya mendampingi ujian tesis Dhomas Erika, mahasiswi Tuli di Prodi Interdisciplinary Islamic Studies. Dhomas adalah salah satu mahasiswa istimewa yang pernah saya kenal. Ia di atas rata-rata bahkan untuk dibandingkan dengan mahasiswa lain.  Saat awal kuliah dulu, misalnya, ia lulus dengan baik ujian baca tulis Quran, sementara banyak mahasiswa lain yang tidak lulus. Padahal saya sudah menyiapkan jurus "siap memaklumi" ketika mengujinya untuk membaca Qur'an.  Saya termasuk penganut mazhab anti paksa dalam hal baca Qur'an Tuli. Memaksa Tuli membaca dengan suara berbunyi sama dengan memaksa tunanetra untuk melihat. Sebab, suara itu, bagaimana pun tidak akan pernah terdengar olehnya. Dhomas melewati hambatan mustahil itu dan membuat saya kaget ketika ia membaca Qur'an dengan baik. Selama kuliah ia juga aktif di PLD menjadi "relabel", relawan tetapi difabel. Ia aktif membantu kegiatan-kegiatan PLD dan rajin ke PLD. Singkat cerita, Dhomas berhasil men...

Laila dan Majnun, Indonesia dan Israel

Gambar
Saat kami berkenalan dan ketika saya menyebut bahwa saya berasal dari Indonesia, Pak David langsung teringat masa mudanya dulu dan mengisahkan kunjungannya ke Bali. Seperti orang Israel lain, ia hanya bisa mengunjungi Bali dengan paspor non-Israel.  Begitu tiba di penginapannya, seseorang datang memperkenal diri. Sebut saja namanya Soleh karena ia seorang Muslim. Mas Soleh bertanya penuh selidik, "Benar ya, Anda orang Israel?" Meski masuk dengan Paspor non-Israel, Pak David tidak berniat menutupi identitasnya. Dengan sedikit khawatir ia menjawab, "Ya." Perkenalan hanya singkat dan mereka berpisah. Saat malam tiba dan ia hendak istirahat, pintu kamarnya diketok orang, "Siapa di luar?" Tamu tak diundang itu menjawab, "Saya, Soleh." Pak David membuka pintu kamarnya. Ia temui Soleh di luar kamar. Pak David tentu saja tambah khawatir. Sekarang mereka hanya berdua.  Menghadapi orang Islam, di negara yang tidak ramah sekali terhadap Israel, apa yang aka...

Mengunjungi Sinagoge Ramah Difabel

Gambar
Berjalan 600 meter dari rumah Yudi (sebut saja begitu), teman baru saya, sampailah kami di tujuan. Beberapa orang sudah di situ, menunggu di pintu menyambut kedatangan setiap jamaah.  Saya segera menemukan apa yang saya tuju, sebuah rampa di sebelah kanan pintu menuju ke dapur di ujung. Karena ini waktu Shabbat, saya minta izin ke Yudi apakah bisa menyalakan kamera. Ia mengizinkan dan saya segera mengambil gambar, menelusuri rampa sampai ke ruangan bersekat kain.  Saat saya melihat-lihat ruangan itu, Yudi menyusul. Ia bawakan sebuah kipah (kopiah Yahudi) berukuran kecil untuk saya pakai. Karena tidak tahu cara pasangnya, saya minta Yudi untuk memasangkan. Selesai, ia bilang, “Now, you look like the native.” Hahaha.  Ia lalu mengajak saya untuk masuk ke ruangan ibadah yang sesungguhnya. Letaknya ada di lantai dua. Nah, di sini terlihat lagi cara berpikir arsitektur yang inklusif. Satu-satunya akses ke lantai dua adalah dengan rampa. Entah si jamaah menggunakan kursi roda a...