Tasrif itu Aib
Bagi saya, ilmu sharf itu aib yang saya sembunyikan sampai hari ini. Kenapa aib? Karena berbeda dengan nahw, saya tidak pernah menemukan “moment of oooo.” Meskipun pengetahuan saya tentang Nahw juga tidak canggih-canggih amat, tetapi setidaknya saya memiliki pengetahuan yang lebih dari cukup untuk membaca teks-teks Arab, bisa menerjemahkan, dan bahkan hidup dari menerjemahkan teks-teks Arab. Jika dalam nahwu minimal saya pernah menghafal lebih dari separuh nazam Imriti (di saat ‘hafal’ tidak sebanding lurus dengan paham), saya hanya selesai di halaman pertama kitab Amtsilah Tasrifiyah. Beli kitab Tasrifan legendaris itu mungkin kelas 1 Tsanawiyah, tetapi mengatamkannya tidak pernah. Masalah saya dengan sharf itu karena lembaga pendidikan yang saya lewati selalu menganaktirikan Sharf. Saya ngaji Jurumiyah saat mondok di Al-Kamal Kunir (waktu tsanawiyah), tetapi tidak dengan tasrifan. Saya belajar nahwu siang malam di MAPK Jember, tetapi tidak dengan Sharf. Saya belajar muhadatsa...