Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2020

Tasrif itu Aib

Gambar
Bagi saya, ilmu sharf itu aib yang saya sembunyikan sampai hari ini. Kenapa aib? Karena berbeda dengan nahw, saya tidak pernah menemukan “moment of oooo.” Meskipun pengetahuan saya tentang Nahw juga tidak canggih-canggih amat, tetapi setidaknya saya memiliki pengetahuan yang lebih dari cukup untuk membaca teks-teks Arab, bisa menerjemahkan, dan bahkan hidup dari menerjemahkan teks-teks Arab. Jika dalam nahwu minimal saya pernah menghafal lebih dari separuh nazam Imriti (di saat ‘hafal’ tidak sebanding lurus dengan paham), saya hanya selesai di halaman pertama kitab Amtsilah Tasrifiyah. Beli kitab Tasrifan legendaris itu mungkin kelas 1 Tsanawiyah, tetapi mengatamkannya tidak pernah. Masalah saya dengan sharf itu karena lembaga pendidikan yang saya lewati selalu menganaktirikan Sharf. Saya ngaji Jurumiyah saat mondok di Al-Kamal Kunir (waktu tsanawiyah), tetapi tidak dengan tasrifan. Saya belajar nahwu siang malam di MAPK Jember, tetapi tidak dengan Sharf. Saya belajar muhadatsa...

Rekomendasi Kasus Purworejo

Gambar
Tadi malam, beliau nelpon saya menanyakan rekomendasi. Sepulang dari Purworejo, dengan data terbatas yang saya miliki dan situasi yang saya ceritakan di catatan pertama, saya segera menghubungi teman-teman Muhammadiyah. Sebenarnya pas saya ke Purworejo hari itu, ada juga tim PD Aisyiah Jateng yang dimotori mbak Kasiyati, advokat hak anak dan difabel, yang juga ke lokasi. Kami janjian tetapi meleset waktunya dan tidak bertemu di lapangan. Tetapi saya mengkomunikasikan hasil temuan saya di lapangan dengan mereka. Seperti yang saya tulis, saya menyarankan agar teman-teman Muhammadiyah yang mengambil peran lebih aktif karena ini dalam banyak aspek kasus bullying ini menyangkut kepentingan Muhammadiyah. TERHADAP KORBAN PERUNDUNGAN Prioritas pertama terhadap korban adalah memastikan bahwa dialah yang lebih berhak untuk tetap sekolah di SMP Muhammadiyah butuh. Rencana memindah dia ke SLB itu sama sekali tidak dibenarkan dari berbagai aspek. Pertama, memindah korban itu sama deng...

Setengah Kosong atau Setengah Isi?

Gambar
"Mungkin kita harus berani ambil tindakan. … yang begini, boleh gak sih dilikuidasi? Saya kira kalau seperti itu, gak ada muridnya, atau gak bisa keluar dengan baik, ditutup saja atau digabung dengan sekolah kiri kanannya," (Ganjar Pranowo, 12/2/2020) Ini fakta di lapangan: SMP Muhammadiyah Butuh punya murid 21 orang, dengan guru 13 orang, 5 di antaranya sudah sertifikasi, sisanya dibayar per jam Rp7.000. Gedungnya bagus. Ada fasilitas Musala dan Laboratorium (meskipun fasilitasnya jangan dibanding dengan sekolah negeri). Sekolah ini sudah lebih dulu berdiri, sebelum SMP Negeri yang hanya berjarak sekian ratus meter, menggerus peminatnya. Pak A, kepala sekolah, aslinya bukan guru. Ia adalah perangkat desa, seorang kader Muhammadiyah yang terpanggil jiwanya untuk mengabdi kepada misi luhur organisasinya. "Daripada saya hanya mengurusi berkas di kantor, di sini saya bisa mengurusi manusia." Bahwa ia mungkin khilaf dalam kasus pemukulan N, ia manusia seperti ma...

Jilbabnya Caca

Gambar
Saya kemarin belum cerita bagaimana Caca yang memilih menjadi perempuan, tetap dalam iman Kristiani, dan menjalani hari-hari kuliah di UIN Sunan Kalijaga. Meskipun, seperti yang pernah saya ceritakan, kami menjanjikan kepada Caca untuk tetap bebas menganut keyakinannya, tetapi Caca sendiri yang memilih menjadi “mahasiswa muslimah” dalam penampilan. Setiap ke kampus, sejak awal kuliah sampai wisuda, Caca berjilbab. Ya, berjilbab gitu. Identitas yang rumit bukan? Laki-laki tetapi perempuan. Kristen tetapi berjilbab. Dan... jangan lupa, ia Tuli tetapi profesinya adalah penari. Jika Anda percaya mukjizat itu ada, tidak perlu laut dibelah. Caca adalah mukjizat luar biasa. Koq dia memilih berjilbab? Saya pernah tanya dia, dan dia menjawab dengan santui kalau dia lebih nyaman pakai jilbab ketika ke kampus. Saya sendiri menduga karena jilbab memberi aksentuasi feminin yang lebih kuat bagi Caca yang sedang berusaha untuk menjadi perempuan sepenuhnya. Ini penjelasan sederhananya. Tetap...

Surat Kepada Pak Ganjar

Gambar
Salam hormat Pak Ganjar. Sebelumnya mohon maaf jika saya bukan orang yang tepat untuk menyampaikan keprihatinan ini kepada Bapak. Saya warga Jogja, tetapi sehari-hari saya diberi amanah untuk untuk melayani hak-hak pendidikan inklusif para mahasiswa difabel di UIN Sunan Kalijaga. Meski demikian, lebih dari sepuluh tahun saya dan teman-teman di Pusat Layanan Difabel mendengar, menemani, dan membantu tidak hanya mahasiswanya, tetapi juga para calon mahasiswa di sekolah-sekolah menengah, di SLB atau di MA/SMA/SMK inklusif. Baru kira-kira sebulan atau dua bulan yang lalu, saya bertemu dengan para wali murid SLB di Kota Yogyakarta dan Gunung Kidul di forum sosialisasi kampus inklusif. Tidak di kota, tidak di gunung, tidak hanya sekarang, tetapi juga dulu-dulu, forum seminar atau sosialisasi itu sering menjadi forum curhat para wali murid. Kalau tidak dibatasi waktu oleh moderator, satu orang bisa bicara 15-30 menit. Bukan untuk bertanya kepada saya sebagai narasumber. Tetapi lebih...

Islam yang merangkul

Gambar
Credit: Facebook Caca Alkisah, sekitar sepuluh tahun yang lalu, seorang calon mahasiswa Kristen tidak diterima di perguruan tinggi yang ia inginkan karena disabilitasnya. Di prodi yang ia ingin ambil, disabilitasnya itu dianggap sebagai penghalang yang memustahilkan ia dari masa depan profesional yang dirumuskan oleh ortodoksi disiplin ilmunya. Ketika ia menceritakan masalahnya kepada kami, tanpa berpikir dua kali kami tawari dia untuk kuliah di UIN Sunan Kalijaga. Awalnya ia ragu, selain karena tidak ada prodi seni yang ia inginkan, UIN adalah universitas Islam. Bagaimana ia nanti belajar Islam di UIN? Singkat cerita, kami yakinkan padanya bahwa UIN itu bukan sekolah pemurtadan. Tidak ada ceritanya, UIN mengirimkan dosen dan mahasiswanya untuk menyulap sebuah masyarakat dari Kristen ke Islam. Plus, kami sendiri yang akan menggaransi bahwa ia akan tetap bebas memeluk agamanya selama di UIN, membebaskan dia dari kewajiban-kewajiban untuk mahasiswa Muslim (seperti wajib bisa baca...

Islam yang menjengkelkan

Gambar
Jadi, di dalam Alquran itu ada perintah untuk ‘membunuh’ orang (kalau kata qatilu diartikan demikian). Tetapi di dalam Alquran juga ada ajaran tentang tidak boleh sembarangan membunuh. Bahkan ada ajaran yang menyatakan bahwa menyelamatkan nyawa satu orang, sama dengan menyelamatkan umat manusia semuanya. Di dalam Alquran, juga ada ayat yang mengakui perbudakan, praktik yang sangat lazim dan lumrah di zaman turunnya ayat-ayat itu. Tetapi di dalam Al-qur’an juga terdapat ayat-ayat yang mendorong agar sedikit demi sedikit perbudakan dihapus. Alquran juga memuat ayat-ayat anti Yahudi (khususnya) dan nasrani dengan nada yang penuh kebencian. Tetapi Alquran juga memuat kisah penghormatan terhadap agama. Makanan dan perempuan mereka statusnya sama halalnya dengan makanan dan perempuan Muslim. Islam membenci perzinaan. Tetapi ada ajaran tentang seorang pelacur yang masuk surga karena welas asihnya pada seekor anjing. Ya, pelacur dan anjing. Sebaliknya ada kisah kiai yang masuk neraka...

Wakaf Buku PLD: Membangun Kampus Inklusif

Gambar
Membangun Kampus Inklusif: Best Practices Penyelenggaran Unit Layanan Difabel Penulis: Ro'fah, Andyani, Muhrisun Penerbit: Pusat Studi dan Layanan Difabel Tahun terbit: Oktober, 2010 Versi Full Text PDF: http://bit.ly/waqf05uld Jika buku pertama kemarin, Inklusi pada Pendidikan Tinggi , berbicara tentang penyelenggaraan pendidikan yang adaptif terhadap tunanetra, buku ini lebih berbicara tentang Unit Layanan Difabel, yaitu unit yang melayani difabel di kampus. Mengapa bukan Pusat Studi dan Layanan Difabel? Meskipun kami sendiri bernama Pusat Studi dan Layanan Difabel , tetapi kami melihat bahwa bentuk ideal dari lembaga yang berfungsi melayani difabel itu adalah sebuah unit khusus, struktural, di kampus mengurusi kebutuhan difabel dan memastikan penyelenggaraan pendidikan yang inklusif. Sebuah pusat studi, menurut pengalaman lokal kami, tidak punya resources  untuk melayani difabel. Maka, pada tahun 2011 atau 2012, kami menyusun sebuah proposal pemb...

Wakaf Buku PLD: Inklusi Pada Pendidikan Tinggi

Gambar
Judul Buku:  Inklusi Pada Pendidikan Tinggi:  Best Practices Pembelajaran Adaptif Bagi Mahasiswa Difabel Netra Penulis: Ro'fah, Andayani, Muhrisun Penerbit: PSLD UIN Sunan Kalijaga, Pertuni, dan ICEVI 2010 Full Text PDF:  http://bit.ly/waqf04inklusiPT ------------- Tahun 2007, ketika kami mendirikan PSLD, sudah ada lebih dari 20 mahasiswa Tunanetra di UIN Sunan Kalijaga. Meski bukan difabel pertama yang kuliah di UIN, mereka adalah rombongan pertama UIN yang inklusif.  mereka pula yang menjadi teman kami dalam mendirikan PLD. Pada saat kampus lain di Indonesia belum memikirkan pendidikan inklusif di perguruan tinggi, para difabel inilah yang menjadi guru kami semua tentang bagaimana merintis pendidikan tinggi yang inklusif. Tanpa preseden, tanpa contoh untuk ditiru, kami belajar menjadi inklusif dengan trial and error (sampai sekarang juga begitu). Tidak ada ceritanya "siap dulu baru menerima mahasiswa difabel". Ya, kami menerima difab...

Buku Kebal Bajakan

Gambar
Kalau Anda penulis kampus seperti saya, Anda harus ingat salah satu qawaid  dalam publikasi buku kampus. Semakin sulit buku dibuat, semakin sempit pasar pembeli yang tersedia, semakin susah dipublikasikan oleh penerbit. Orang kampus itu [normatifnya] menulis untuk tuntutan akademik, bukan tuntutan pasar. Ia perlu menulis apa yang harus ia tulis. Soal pasar mau menerima, urusan lain. Sama seperti dunia pendidikan. Harusnya orang mendidik itu, hanya fokus mendidik, yaitu proses memaksimalkan potensi setiap individu anak didik. Soal pasar butuh apa, soal Nadiem Makarim butuh apa, tidak penting. Terpenting adalah: mendidik. Kembali ke soal buku. Mengingat tugas penelitian yang diembannya, maka seorang dosen menulis karena ada alasan akademik untuk melakukan riset, menuliskannya dalam laporan riset, dan memublikasikan hasilnya. Jalan publikasi ada dua: publikasi melalui jurnal dan publikasi buku. Dalam publikasi jurnal, jangankan mendapatkan keuntungan, buanyak dosen yang bahka...

Membajak Buku Gus Dur

Gambar
Suatu ketika di kantor, 10 tahun lalu (lama sekali ya?), seorang dosen LB menawari saya beberapa buku asing. "Murah pak. Kualitas buku Amerika, harga Sapen," katanya. Saya cek, buku yang ia tawarkan adalah buku-buku cetak lokal dari ebook yang dapat diunduh di sebuah situs yang saya lupa namanya (dengan domain .nu). Saya tidak ingin munafik, saya juga mengunduh buku-buku dari situs yang kini sudah mati itu untuk menyelesaikan disertasi saya. Tetapi yang bikin kaget saya adalah: ada orang yang mengunduh dan mengkomersialkannya. Anda boleh tidak setuju dengan saya. Saya kira ada perbedaan yang jelas antara mengunduh ebook untuk kepentingan pribadi dengan mengunduh dan menjual versi cetaknya. Untuk kasus pertama, argumen yang paling sering kita pakai adalah bahwa kita secara ekonomi tidak cukup kaya untuk membeli buku-buku itu biar pintar. Harga buku akademik berbahasa asing bisa menembus $500 per eksemplar. Kalau kita harus beli, harga buku itu setara dengan gaji Kepal...

Filantropi Islam: Teori dan Praktik

Gambar
Filantropi Islam: Teori dan Praktik Cetakan I Januari 2020 Edisi pertama terbit tahun 2017 dengan judul  Filantropi Islam: Fikih untuk Keadilan Sosial Diterbitkan oleh Magnum Pustaka Utama ISBN: 978-602-5789-77-9 Dapatkan buku ini di Google Play Ketika buku ini terbit pada 2017, saya baru mengajar mata kuliah Filantropi Islam. Untuk mengajar, saya berusaha mencari referensi dan saya sadari bahwa referensi yang bersifat 'text book' untuk Filntropi Islam tidak ada. Tulisan-tulisan tentang filantropi Islam yang tersedia adalah hasil-hasil riset tentang praktik pengelolaan zakat infaq dan sedekah. Dalam konteks kuliah, buku-buku itu bersifat advance , bukan  introductory . Oleh sebab itu, saya menyusun buku Filantropi Islam yang berisi pengantar teoritis. Setelah dua tahun mengajar dan menggunakan buku tersebut, ada kebutuhan lain yang saya lihat: bahwa pengantar teori saja belum cukup. Harus ada pengantar praktis. Kebetulan, kelas filantropi Islam yang saya a...

Disability Studies di UIN Sunan Kalijaga

Gambar
Disability Studies di UIN Sunan Kalijaga: Kebijakan, Riset, dan Publikasi   Arif Maftuhin dan Liana Aisyah  ISBN : 978-623-7507-84-0 Januari 2020  Diterbitkan oleh: Pusat Layanan Difabel (PLD) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta  dan Penerbit Samudra Biru Pembelian Buku: Google Play Sebagai universitas pertama di Indonesia yang menyatakan diri sebagai universitas inklusif, tidak mudah untuk memulai dan menjadi yang pertama karena tidak ada contoh. Dalam hal praktik pelayanan dan kebijakan pendidikan tinggi inklusif, PSLD mendorong banyak perubahan di UIN Sunan Kalijaga melalui proses trial and error, melalui proses mencoba, belajar, salah, koreksi, dan seterusnya. Dalam rangka trial and error itulah penelitian dan ‘studi’ menjadi tak terelakkan. Seperti tercermin dalam namanya, PSLD tidak dibentuk hanya untuk tujuan pelayanan praktis, tetapi untuk menjadi sebuah pusat studi. Sejak dari awal, kami menyadari riset menjadi bagian penting dari upaya mewuj...

Antara Khusus dan Prioritas

Gambar
Sudah beberapa kali saya lihat teman yang mengkritik orang yang duduk di  priroity seats,  baik itu di bandara, terminal, atau stasiun kereta dan di angkutan umum. Kritik itu barasumsi bahwa kursi-kursi itu  tidak boleh diduduki  non-difabel, non-manula, dan non-bumil.  Priority  dipahami sebagai "khusus untuk". Benarkah demikian? Untuk pengguna kursi roda dipakai tukang catering di Masjid Al-Akbar (Dok. Pribadi) Kata " priority " dalam bahasa Inggris artinya "the right to take precedence or to proceed before others."  Hak untuk mendahului atau didahulukan sebelum yang lain. Misalnya, " Priority is given to those with press passes ", prioritas diberikan kepada mereka yang membawa kartu wartawan. Yang bukan wartawa? Boleh saja, selama masih ada kursi dan sudah tidak ada lagi yang bawa kartu wartawan. Intinya, boleh masuk, tetapi kalau ada wartawan, siap minggir. Pembuatan priority seats  di tempat-tempat dan angkutan umum juga bermakna dem...

Legenda Gudeg Jogja: Dari Mbah Lindu ke Mbah Pon

Gambar
Sebuah pesan WA masuk ke HP saya kemarin malam: Namanya mbah Pon…… Penjual gudeg di pojokan Pasar Beringharjo Jogja. Mempunyai lima anak, yang dua anak sudah kuliah di Universitas Gajah Mada (UGM), dua lagi di Insititut Teknologi Bandung (ITB) dan satu lagi di Universitas Indonesia. Mereka sekolah sampai jenjang kuliah tanpa beasiswa. Siang itu, mbah Pon duduk di depan para peserta seminar yang antusias ingin belajar kesuksesan dari mbah Pon... Dan seterusnya. Anda cari di Google dengan kata kunci Mbah Pon Gudeg Beringharjo, maka puluhan halaman memuat kisah ini. Sama persis. termasuk situs se-terpercaya: ANTARA! "Rif, kenal karo mbah Pon ini?" begitu tanya teman saya yang mengirimkan WA dari Jakarta. Saya tidak kenal. Tetapi dari model tulisannya, saya sudah curiga ini bukan cerita nyata: disebutkan momennya adalah seminar, tetapi kapan dan dimana tidak ada keterangan. Maka saya google dengan kata kunci tadi. Tulisan tertua di salah satu blog berasal dari Juni 2018. H...

Mutung

Gambar
Langgar (musala) dekat rumah saya, beberapa waktu yang lalu, mendapatkan seorang jamaah baru. Ia menantu salah satu warga kami. Orangnya rajin sekali. Setiap waktu salat tiba, ia adalah orang pertama yang membuka pintu Langgar. Oleh karena itu pula, ia yang kemudian mengumandangkan azan. Setiap hari, setiap waktu salat yang ia di rumah, ia tak pernah absen berjamaah. Langgar saya pada dasarnya langgar yang 'merdeka' tanpa imam tetap. Tetapi kami sudah tahu urutannya jika semua orang datang ke langgar pada saat iqamat. Mbah K, Mbah A, dan sesudah itu bisa siapa saja. Mbah kaum dapat prioritas karena beliau salah satu tokoh yang ikut menghidupkan langgar ini di awal-awal 'revitalisasinya'. Mbah A karena beliau bagus ngajinya dan paling sepuh di antara jamaah. Sesudah mereka berdua, ada banyak orang yang memenuhi syarat menjadi imam yang baik, jika syaratnya adalah afsahukum bil-qur'an.  Tetapi yang lebih penting bagi kami adalah kaidah akburukum sinnan. Saya h...

Mengubah Umat

Gambar
Langgar Dekat Rumah, tempat umat mengekspresikan cintanya Beragama itu pada akhirnya memang hanya soal pribadi, diimani sebagai urusan pribadi, diamalkan sebagai urusan pribadi. Kalau pun mau memperluas sebagai wilayah 'umum', maka siap-siap saja gelo.  Saya tidak bicara soal yang canggih-cvanggih seperti negara Islam atau khilafah lho ya. Kejauhan. Saya sedang bicara soal sepele saja, mengamalkan agama dalam kehidupan sehari-hari dan bertetangga. Wilayah 'umum' yang saya maksud, baru sebatas 'umum' beragama dalam konteks komunal yang paling kecil, di lingkungan kita sehari-hari. Dulu, saat pertama kali saya merantau dan tinggal di luar lingkungan beragama, saya sering ngeluh bagaimana orang yang dianggap tokoh agama di tempat baru saya itu sebenarnya tidak 'cukup kapasitas' untuk disebut tokoh. Terutama ketika kita tahu bagaimana ia menjadi imam salat dan  bacaannya tidak beres.  Semakin sering saya pindah tempat, semakin sering saya tahu ...