Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2007

Seminggu di Jogja

Sudah seminggu di Jogja. Semua yang lama kini terasa baru. Saat seorang teman bertanya bagaimana rasanya menghirup kembali udara Indonesia, saya hanya bisa terkagum, “Bagaimana mungkin bangsa ini bisa bertahan hidup dalam kesemerawutan semacam ini?” Jalan-jalan kita sudah tidak ramah lagi terhadap penggunanya. Dan para pengguna jalan pun juga sudah tidak ramah dengan sesamanya. Dulu kita mungkin masih bisa dan boleh tertawa mendengar lelucon klasik ini: “Kalau di Amerika, kita menggunakan jalur sebelah kanan; kalau di Inggris kita menggunakan jalur sebelah kiri. Nah kalau di Vietnam… We ride both sides !!!” Ya. Begitu pula di Indonesia sekarang. Bahu kiri dan kanan baru terbagi rapi hanya bila ada beton pemisah. At worse, Vietnam sekarang mungkin sudah lebih tertib daripada kita. Udara Jogja pun tak terasa segar lagi. Ah, dua tahun yang lalu juga sudah begini… tetapi sekarang lebih parah rasanya. Semakin banyak mobil, semakin banyak sepeda motor, dan semakin berkurang angkutan ramah li...

Keramahan ala Indonesia

Saya tiba di Bandara Soekarno Hatta jam 8.00. Senang rasanya menghirup kembali udara Indonesia, negeri yang saya rindukan. Tetapi, saya tahu bahwa saya tak bisa mengharapkan sambutan ramah dari negeri yang saya rindui. Saya sudah sejak dari semula membeli tiket langsung Singapura-Jogja dengan harapan tak perlu memasuki ruang publik pintu gerbang Indonesia di Cengkareng itu. Saya tak mau bertemu dengan wajah-wajah garang saudara saya. Tak ada beda, apakah dia petugas bandara, pegawai cukai, atau… apalagi, calo-calo taksi dan ojeg yang siap “menguangkan” kita. Tetapi saya tak punya pilihan. Karena kita datang di international terminal, maka kita harus keluar dan pindah ke domestic terminal, anyway. Di situlah daerah rawannya. Begitu keluar, troli saya langsung diapit dua orang satu berpakaian necis dan berdasi; dan satunya berpakaian preman galak. Spontan saya bilang, “Saya tidak butuh taksi, saya hanya akan pindah terminal” Dan saya minta mereka untuk tidak mengusik saya. “Astaghfirulla...

My Univeristy and the Web

Gambar
Last year, the university where I work launched its new website. I was glad that the web looks better than the earlier version. It has a more professional look. But, a "look" is indeed not a right word to describe a university website. I may proudly said that this website is pretty cool; nevertheless, "coolness" matters less than the function of the web. Does the web help out the university to serve better? This is the question. Banyak lembaga di Indonesia yang seringkali latah dalam mengikuti perkembangan teknologi semisal internet ini. Ramai-ramai dengan dana yang "ngoyo" website dibuat, tetapi begitu web diluncurkan... titik. Peluncuran website dianggap sebagai selesainya sebuah proyek, instead of the beginning. UIN Sunan Kalijaga yang saya cintai sepertinya juga begitu. Begitu dirilis, tak ada lagi update. Website Fakultas Dakwah ini contohnya. Foto di bawah ini baru saja saya ambil lho (dan Anda bisa mengecek sendiri di sini ), dan bukan tanggal 09 Ag...

Bahasa Indonesia vs Malay

Gambar
Due to the fact that Bahasa Indonesia (the Indonesian language) is derived from Malay, I used to think that Bahasa Indonesia is a later version of the original Malay. In this way, Malay, the language used in Malaysia and Brunei, would be "more original" or more "traditional" than Indonesian. I have to change my mind as a professor in the University of Washington told me the other way around. It was during my oral exam that Prof. Chirot told me a story of him accompanying the late Prof. Lev. An Indonesianist specializing in the 1950s, Prof. Lev was trained in Bahasa Indonesia rather than Malay. So, he speaks fluently Indonesian. Once upon a time. They both were visiting Malaysia. In conversations with Malaysian, Prof. Lev speaks Indonesian rather than English. The Malaysian they met were amazed by his fluency. They were embarrassed as they felt that they didn't speak a "purer" Malay as Prof Lev did. According to Prof. Chirot, Malaysians think Indonesian...