Menawarkan Teori Baru Lewat Tafsir al-Ibriz Kiai Bisri
Besok pagi, Kamis 1 Agustus, saya akan mempresentasikan salah satu on going researh saya dalam translation studies di Forum ICAS ke-13 di UNAIR. Melanjutkan riset saya di Yerusalem tentang manuskrip-manuskrip jalalain dari berbagai pondok pesantren dan surau, besok saya akan fokus pada satu manuskrip dari Pondok Pesantren Langitan. Tawaran teori saya sebenarnya sederhana saja: bahwa naskah-naskah tafsir ynag lahir pada zaman cetak, seperti al-Ibriz, dipengaruhi oleh tradisi panjang pembelajaran tafsir oral yang ada di nusantara. Islam itu disebarkan pertama-tama adalah secara oral dan karena itu "oral register" ini harus menjadi perhatian dalam setiap diskusi kita tentang banyak hal terkait produksi pemikiran dalam Islam. Kajian sejarah tafsir, misalnya, selama ini lebih didominasi pencarian "naskah tercetak" atau pun kalau dalam bentuk manuskrip lebih mengasumsikannya sebagai produksi "menulis" yang dipoisahkan dari tradisi oralnya. Jadi, saya mencoba ...