Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2024

Menawarkan Teori Baru Lewat Tafsir al-Ibriz Kiai Bisri

Gambar
Besok pagi, Kamis 1 Agustus, saya akan mempresentasikan salah satu on going researh  saya dalam translation studies di Forum ICAS ke-13 di UNAIR. Melanjutkan riset saya di Yerusalem tentang manuskrip-manuskrip jalalain dari berbagai pondok pesantren dan surau, besok saya akan fokus pada satu manuskrip dari Pondok Pesantren Langitan.  Tawaran teori saya sebenarnya sederhana saja: bahwa naskah-naskah tafsir ynag lahir pada zaman cetak, seperti al-Ibriz, dipengaruhi oleh tradisi panjang pembelajaran tafsir oral yang ada di nusantara. Islam itu disebarkan pertama-tama adalah secara oral dan karena itu "oral register" ini harus menjadi perhatian dalam setiap diskusi kita tentang banyak hal terkait produksi pemikiran dalam Islam.  Kajian sejarah tafsir, misalnya, selama ini lebih didominasi pencarian "naskah tercetak" atau pun kalau dalam bentuk manuskrip lebih mengasumsikannya sebagai produksi "menulis" yang dipoisahkan dari tradisi oralnya. Jadi, saya mencoba ...

Kiai Bisri Menipu Setan

Gambar
Di dalam buku biografi Kiai Bisri Mustofa yang sedang saya nikmati, ada cerita menarik dari Gus Mus tentang rahasia produktifitas menulis ayahnya. Seperti kita tahu, Kiai Bisri itu penulis serba bisa yang menggarap berbagai tema, dari tema-tema keagamaan sampai sastra. Dari menulis tafsir sampai menulis novel. Ini tentu saja bikin heran kiai-kiai sezamannya. Nah, cerita Gus Mus berikut bisa jadi pelajaran bagi siapa saja yang ingin produktif menulis ... dan bisa menjadi profesor beneran (huahaaha!).  *** Di dalam menulis, Abah mempunyai 'falsafah' yang menarik. Pernah suatu ketika beliau berbincang-bincang dengan sahabat- nya-guru saya-Kiai Ali Maksum Krapyak tentang tulis-menulis ini. "Kalau soal kealiman, barangkali saya tidak kalah dari Sampeyan, .... tapi mengapa Sampeyan bisa begitu produktif menulis, sementara saya selalu gagal di tengah jalan. Baru separo atau sepertiga, sudah macet tak bisa melanjutkan." Dengan gaya khasnya, Abah menjawab: "Lha soalnya Sa...

Universitas NU, Koq Universitas Riset!

Gambar
Saat di Malang bulan lalu, saya ditemui beberapa kiai dan nyai Gondanglegi yang diutus oleh Yai Adib, Pak "pek" rektor Universitas al-Qolam . Salah satu dari sekian topik yang kami bincang siang itu adalah soal manajemen universitas yang ada di lingkungan pondok seperti al-Qolam ini. Saya sampaikan ke beliau-beliau bahwa dulu saya pernah mengkritik Yai Adib sewaktu bikin visi sebagai universitas riset berbasis pesantren. "Sampeyan bikin universitas riset di Gondanglegi? Gak ndobos ta? Sopo sing arep meneliti? Duite soko ngendi? Riset opo?" Saya kalau ngritik emang gitu . Wong saya ini bukan motivator! Apalagi yang saya kritik itu, meskipun kiai dan rektor, adalah kawan baik saya. Ya, bloko suto dan sengaja "menghina" begitu. Hahaha.  Kebetulan, waktu itu saya baru saja pulang dari Scotland, UK. Selama seminguan saya dan teman-teman jaringan perguruan tinggi inklusi belajar di Glasgow Caledonian University. Nah, menariknya, meski di Skotlandia dan punya tra...

Manfaat Nyalon Rektor

Gambar
Saya ingin "bercerita tentang" tetapi jangan "tanya saya tentang" ... nyalon rektor . Sebab, meskipun nyalon, saya tidak tahu apa-apa di luar hal formal-administratif: daftar, presentasi visi misi di senat, dan wawancara di komsel. Selebihnya, wallahu a'lam . Cerita ini terkait dengan apa yang terjadi tadi siang: kami kehilangan lagi salah satu dosen muda di UIN Sunan Kalijaga, Mas Zainal. Beliau meninggal kabarnya karena serangan jantung. Padahal Sabtu lalu kami baru saja ketemu, ngobrol, makan bareng sambil ngrasani dunia pendidikan tinggi bersama sejumlah teman di kawasan Palagan. Allah rupanya punya kehendak yang tidak kami duga, hari ini Mas Zainal pergi dan ia bukan dosen muda pertama yang mengejutkan kami kepergiannya. Mungkin ada enam tujuh orang yang meninggal dalam periode pasca pandemi Covid. *** Apa kaitannya dengan pilihan rektor UIN? Begini lho, gara-gara "nyarek" itulah saya menjadi lebih peduli dengan urusan kesehatan pribadi saya. Sepe...

Roundtable "Fikih Tambang"

Gambar
  Dalam artikel Fikih, Ideologis dan Berpihak , setidaknya saya mengajukan poin-poin berikut: Pentingnya Analisis Relasi Kuasa: Artikel ini menyoroti pentingnya menganalisis isu tambang dari perspektif relasi kekuasaan. Isu tambang bukan hanya soal fikih, tetapi juga menyangkut relasi kekuasaan dan kepentingan. Fikih sebagai Alat Ideologis: Fikih tidak hanya sebagai sistem hukum Islam yang ketat dengan aturan dan norma, tetapi juga digunakan sebagai alat ideologis untuk melegitimasi kepentingan tertentu. Pendekatan formalis dalam fikih sering kali melayani kepentingan tertentu. Formalisme dalam Fikih: saya menyoroti kritik Kiai Sahal bahwa fikih memiliki watak formalistik yang rentan terhadap manipulasi (hilah). Ia memberikan contoh bagaimana ahli fikih dapat mensiasati hukum untuk keuntungan pribadi, yang menunjukkan bahwa pendekatan formalis dalam fikih bisa disalahgunakan. Kritik Epistemologis dan Metodologis: Saya mengkritik Gus Ulil dari dua kacamata, yaitu epistemologis dan m...

Dicegat Jamaah

Gambar
Sebagai khatib, saya punya pengalaman berkali-kali ditunggu dan dicegat jamaah saat selesai Jumatan. Sekali dua kali ada jamaah yang menyampaikan ketidaksetujuan atas isi khutbah saya. Eh, persisnya dua kali sebenarnya. Pertama, saya masih ingat ada jamaah mazhab nganu yang memprotes khutbah toleransi saya untuk mengucapkan selamat natal. Khutbah ini saya sampaikan di masjid kampung saya Kedua, khutbah kesetaraan gender di kegiatan masjid yang saya bacakan di Masjid Mardiyah. Selebihnya, pengalaman dicegat jamaah itu pengalaman yang "damai"😄:  ingin kenalan, ucapan terima kasih, minta nomor telpon... Kemarin, sewaktu khutbah di Masjid Suciati, saya punya pengalaman baru. Begitu saya meninggalkan saf hendak keluar masjid, dua orang mendekati saya. Mereka tidak saling kenal, datang dari arah yang berbeda, tetapi niat mereka sama.  Jamaah A: "Pak, boleh tidak saya minta naskah khutbahnya?" Belum sempat saya jawab, yang B segera bilang, "Tadinya saya juga mau mint...

Khutbah Lingkungan Hidup

Gambar
Dari Taharah al-Nafsi  ke Taharah al-Bi’ah الْحَمْدُ للهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارْ، اَلْعَزِيْزِ الْغَفَّارْ، مُكَوِّرِ اللَّيْلِ عَلَى النَّهَارْ، تَذْكِرَةً لِأُولِى الْقُلُوْبِ وَالْأَبْصَارْ، وَتَبْصِرَةً لِّذَوِي الْأَلْبَابِ وَالْاِعْتِبَارْ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِٰلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهْ الْمَلِكُ الْغَفَّارْ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلاَئِقِ وَالْبَشَرْ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَأٰلِهِ وَصَحْبِهِ الْأَطْهَارْ. أَمَّا بَعْدُ فَيَآأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَى. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ ٱللّٰهِ ٱلرَّحْمٰنِ ٱلرَّحِيمِ   • ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ    • اَمْ نَجْعَلُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰل...

Karpet Merah untuk Professor

Gambar
Di sebuah acara pernikahan, saya ikut antri dengan rombongan undangan yang lain. 𝐴𝑚𝑜𝑛𝑔 𝑡𝑎𝑚𝑢 di dekat saya mengatakan, "𝑀𝑜𝑛𝑔𝑔𝑜 bapak ibu, silakan dahar dulu saja antrian salaman masih panjang." Beberapa orang mengiyakan anjuran itu. Saya tengok ke istri, "Aku masih kenyang. Kita terus antri ya." Mbak Bojo setuju. Walaupun acaranya "walimangan", tujuan kami bukan makan. Antrian memendek karena berkurang oleh mereka yang pilih makan duluan. Saya lihat di depan saya ada salah satu pegawai tendik UIN yang saya kenal. Sambil mendekat, saya jawil dari belakang antrian, "Sehat Pak?" Ia menengok dan setengah kaget, "Duh, Prof. Monggo 𝑛𝑗𝑒𝑛𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 langsung maju saja. Masak profesor ikut antri di sini," katanya sambil berusaha keras melukir posisi di belakang saya. Tak kalah cepat, saya lukir kembali posisi antrian. "Ah, 𝑚𝑏𝑜𝑡𝑒𝑛 pak. Tidak apa-apa antri. 𝑁𝑗𝑒𝑛𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑚𝑜𝑛𝑔𝑔𝑜 di depan." kami kembali ke...

Fikih itu harus Berpihak!

Gambar
Di tulisan sebelumnya ( silakan baca di sini ), dua poin sudah saya sampaikan terkait Fikih: pertama, Fikih itu ideologis, dan karena itu kita tidak bisa pura-pura “lugu” tanpa kepentingan; dan kedua, Fikih itu punya watak “formalis”, yang dapat dikonstruksi untuk mengabdi kepada kepentingan si Fakih. Saya ingin melanjutkan contoh betapa “formalis”nya Fikih untuk mengajukan argumen pembanding yang ditulis secara panjang lebar oleh Gus Ulil di Facebook (syarah dari tulisan pendek beliau di Kompas). Tujuan saya sekedar untuk menunjukkan bahwa kalau kaidah Fikih bisa digunakan untuk menjustifikasi tambang, demikian pula sebaliknya. Saya juga ingin sampaikan notifikasi agar mereka yang tidak menyukai diskusi Fikih, tidak menganggap ini penting, tidak relevan, untuk tidak perlu repot-repot membaca. Paling Anda nanti akan komentar, “Urusan begini saja koq dibuat ndakik-ndakik.” Sudahlah, ini biar urusan kami dan masalah kami jika demikian. Anda tidak membaca, memilih demo di depan kantor PBN...

Fikih itu Ideologis!

Gambar
Tulisan Gus Ulil Abshar  Abdalla di Kompas dan Facebook dapat dikomentari dari berbagai sudut pandang. Analisis paling tepat sebenarnya kalau kita telanjangi relasi kuasanya. Isu "tambang untuk ormas" ini, seperti sudah dikatakan oleh banyak orang, paling fundamental adalah soal kuasa dan kekuasaan. Titik. Lainnya hanya aksesoris.  Maka, saya sebenarnya tidak ingin ikut berbicara, karena saya ini  jirih kalau berbicara tentang kekuasaan. Tetapi, karena urusan "tambang untuk ormas" itu dibawa-bawa ke Fikih oleh Gus Ulil, tidak ada salahnya kalau saya ikut menyumbang catatan. Saya ingin mengkritik dari dua kacamata saja: kritik epistemologis dan kritik metodologis (di tulisan kedua). Secara epistemologis, Gus Ulil memisahkan antara "cara pandang Fikih" dan "cara pandang ideologis" dalam melihat persoalan tambang. Para aktivis lingkungan, katanya, memandang batubara dengan pandangan yang kotor, demonizing (ia gunakan istilah “vilifikasi”). Sementara...