Blak


Saya menghentikan sepeda saya di tengah mbulak,  kemudian memilih tempat duduk kering di galengan sepetak sawah, menikmati botol air kurma yang saya bawa dari rumah. 

Saya sedang menunggu matahari terbit di ujung bukit Gunung Kelir ketika sesosok tubuh tampak muncul pelan dari balik kabut. Awalnya hanya kaki yang tampak karena pakaian putihnya menyatu dengan kabut yang menyelimut. 

Tak lama menunggu, sosok utuh mbokde itu kelihatan lebih jelas. Berjalan pelan meniti galengan, ia lalu mampir sebentar di gubuk biru mengambil sesuatu.

Saat berjalan ke arahku, semakin jelas apa alat yang ia ambil di gubuk tadi. Pecahan bambu berukuran sekitar dua meter yang dulu pernah saya akrabi di masa kecil. Kalau kemarin saya teringat dan cerita soal kentheng, jujur saja saya lupa sama sekali nama alat yang dibawa mbokdhe ini. Saya sering membantu bapak membawakan alat itu ke sawah saat musim tandur.

Jadi, kalau kentheng digunakan sebagai panduan utama, alat ini digunakan oleh dua orang tukang tandur untuk memandunya dimana ia menancapkan pari. Belahan bambu itu ditandai, dikrowaki, dengan ukuran 20-25 cm untuk mengukur jarak tanam antara benih padi.Agar tidak tenggelam di lumpur, bilah bambu itu diberi kaki di dua ujungnya, terbuat dari sepet (kulit kelapa).  

Karena lupa namanya, saya terpaksa tanya ibu saya di rumah. Hahaha. Di tempat asal saya, Blitar, namanya blak! Apa namanya di tempatmu?


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama