Barongan


Dulu, saat setiap rumah di desa kami di Blitar masih punya tegalan (pekarangan di belakang rumah), ada beberapa sistem tanam pohon 'standar' yang gampang dititeni. Pohon tahun (salam atau sendung) menjadi pembatas antar pekarang. Pohon lainnya (seperti kelapa, pisang, ketela, pohon buah apa saja) di tengah pekarangan, dan di bagian paling belakang, yang sering juga menjadi pagar dengan 'wilayah' lain (desa lain, pedukuhan lain), adalah rimbunan pohon bambu.

Biasanya juga, di sekitar pohon bambu itu ada kali, minimal kalen (kali yang lebih kecil). Saya dulu tidak pernah tahu hubungan "bambu dan kali". Orang tua saya juga tidak pernah menjelaskan. Pokoknya ngono. Taking it for granted, kata teman saya. Saya baru tahu kemudian hari bahwa bambu adalah pohon terbaik untuk menjaga air. Hutan bambu yang baik memberi jaminan cadangan air yang baik.

Di tempat tinggal saya sekarang, di Bantul, saya juga bisa menemukan struktur yang mirip. Toh memang secara 'nasab' kebudayaan, Blitar itu mataraman. Nenek moyang saya juga berasal dari Kulonprogo. Jadi, kalau punya kesamaan tata hidup kuno seperti ini, ya wajar saja. 

Orang Jawa dulu tidak pernah asal kalau menyangkut tatanan kehidupan. Tata letak bangunan dan fungsi tanah adalah bagian penting dari apa yang dianggap baik dan tidak bagi kehidupan. Masjid di barat laun-alun. Rumah selalu menghadap utara atau selatan, tidak peduli arah jalan, misalnya, adalah contoh lain tatanan yang dijaga bersama itu di mana saja. 

Kembali ke soal tanaman bambu di ujung belakang pekarangan itu. Kami menyebutnya barongan. Karena karakter pohon bambu yang rapat, daun yang berlimpah, baik yang di pohon atau yang rontok berserakan di bawahnya, barongan itu menjadi semacam hutan dekat rumah. Sebagaimana hutan, barongan itu bagi anak-anak adalah tempat menakutkan. 

Bukan hanya karena banyak ular dan garangan yang aman bersarang di situ, tetapi cerita-cerita tentang hantu, pocongan dan medi cumplung, juga ditempatkan di barongan. Orang tua jaman dulu, kalau anaknya nangis, salah satu ancamannya adalah, "tak guwang neng barongan lho nek nagis terus." (dibuang ke hutan bambu kalau nangis terus).

***

Kemarin pagi saat bersepeda menelesuri desa-desa di Bantul, GPS saya tiba-tiba error. Saya hanya mengikuti naluri saja untuk mengarahkan sepeda kami ke arah mana. Jalan setapak di pinggir sungai saya ikuti. Tiba-tiba kami sudah berada di antara rimbunan pohon bambu yang lebat. Saya cek lagi GPS. Jalan kecil ini tidak ada di peta. Tentu saja, wong kami tersesat di sebuah barongan. Entah ada memedi yang tinggal di situ atau tidak, susananya memang menyeramkan, tetapi eman untuk tidak diambil fotonya. Cekrek!

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama