Kopi dan Puisi di Egalita


Sebulan lalu, saya ditelpon Pak Setia. "Datang ke Dria ya, kita sudah buka warung kopinya!" Beberapa minggu sebelumnya, saat ngobrol di salah satu angkringan di Jl. Patangpuluhan, Pak Setia memang cerita kalau pertemuan berikutnya tidak perlu di luar, kita buka angkringan sendiri. 

Karena kesibukan ini dan itu, saya belum sempat ke sana. Sabtu pagi saya WA beliau, "Pak saya mau mampir ke warung kopinya. Njenengan kapan piket?" Karena kantor Dria itu agak jauh dari rumahnya, Pak Setia nggak selalu di sana. Ia pesan, kalau mampir tolong kabari biar beisa ketemu. Tak lama kemudian, saya ditelpon, "Nanti sore ya, kebetulan ada event seru. Tunanetra Baca Puisi."

Meski sempat terlambat dari jadwal, say datang "tepat waktu" acara dimulai. Kantor Dria Manunggal sekarang sudah disulap sebagai cafe cum perpustakaan. Saya baru tahu kalau ternyata Mas Irwan yang dulu aktif di Mitra Ntera yang menggawangi cafe ini. Mas Irwan ini tunanetra, alumni UIN Jakarta angkatan 1987. Ia belajar tentang kopi di Jember. 

Nah, sore ini acaranya adalah membaca puisi-puisi tentang kopi karya Mas Irwan yang ternyata seorang penyair keren. Buku antologi puisinya baru akan diluncurkan besok Oktober. Malam itu untuk icip-icip saja. Pembaca puasa utamanya adalah teman-teman tunanetra. Saya lihat ada beberapa mahasiswa difabel dari UIN yang hadir dan ikut membaca puisi. Ada juga mahasiswa UGM dan ISI. 

Karena dipaksa manggung juga, saya tidak punya pilihan selain pegang mic untuk bicara apa yang perlu dibicarakan. Setelah membaca puisi pendek, saya memberikan komentar tentang topik yang tadi sempat kami diskusikan sebelum acara dimulai: bagaimanakah tunanetra harus menulis puisi?

Seperti kita tahu, sebagian orang lahir tunanetra. Dunia mereka adalah dunia suara dan raba, tanpa cahaya. Apakah mereka yang belum pernah melihat birunya langit, kelap-kelip bintang, boleh menulis puisi tentang hal-hal visual?  Soal boleh dan tidak, tentu kita lalu berbeda pendapat: ada yang bilang boleh, ada yang bilang tidak.

Boleh saja, kalau ia tidak terlahir tunanetra. Ia tentu pernah mengalami dan mengingat visual alam semesta. Dengan begitu, bisa saja ia memuitisasikan memorinya. Nah, bagi yang terlahir buta, persoalannya bukan boleh atau tidak, tetapi bisa nggak dia memputisasikan apa yang tak pernah ia lihat? Ia boleh mencoba, tetapi daripada ia menghayal belaka, akan lebih baik kalau ia mempuitisasikan dunia auditori dan taktil (raba) yang ia alami. Sebab, dengan begitu, kita yang tidak buta malah bisa menjadi tahu dunia di balik matanya yang tertutup itu.

Warung kopi Dira Manunggal ini namanya Egalita. "Mengapa semua kopi, mau robusta atau arabica, mau dari Gayo atau Papua, rasanya pahit? Tidak seperti kita, karena kopi memang egalita!" Hahaha. 

 

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama