Memahami Keragaman Disabilitas

 


Sebagai orang yang lama mendampingi difabel, saya selalu memulai dan menekankan di kelas bahwa "saya akan berusaha keras untuk memperhatikan kebutuhan, keunikan, dan hambatan orang per orang mahasiswa."

Saya menindaklanjuti sikap itu, salh satunya, dengan membuat form kontrak belajar individual, personal, hanya saya dan dia yang tahu. Di kontrak itu, mahasiswa boleh meminta dispensasi waktu, modifikasi tugas, dan adaptasi personal lain jika diperlukan. Saya akan me-review kelayakannya dan kemudian memenuhi permintaan itu. 

Usaha ini dilakukan karena disabilitas itu tidak semua kelihatan. Kita belum memiliki sistem asesmen yang mampu mendeteksi disabilitas di luar orang-orang disabilitasnya tampak mata. Nah, yang tidak tampak itu kadang lebih membutuhkan dari yang tampak. 

Di atas mereka yang disabilitasnya tidak tampak dan kemudian mau mengakuinya di form rahasisa itu, ada juga yang lebih serius: si mahasiswa tidak menyadari disabilitasnya. Merespons undangan saya untuk buka-bukaan, ia menulis begini (full quote):

"... bapak adalah bisa mengarahkan dan mengajarkan dengan baik. karena setiap karakter mahasiswa sangat beragam dan pencapaian untuk menangkap juga beragam."

Lha, bukannya saya membuat form itu tujuannya adalah untuk mengetahui keragaman yang di zaman kuliah daring ini mustahil saya tangkap kecuali kalau ia memberi tahu saya? 

Ini seperti saya bilang, "Mas, tolong saya dibantu mengangkat karung ini karena saya tidak kuat..." Lalu orangnya menjawab, "Makanya pak, kalau nggak kuat angkut karung itu, bilang sama saya." 😄 

Nah, kepada mereka yang demikian, saya akan memberikan perhatian esktra. Fa-innahu la yadri annahu la ya

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama