Orang Aneh


Menurut perasaan saya, maaf kalau salah, saya sudah lama sekali menghilangkan kata bodoh, atau orang bodoh, dari benak saya. Kadang saya masih misuh sih, 'goblok!' begitu. Selain tidak di depan umum, pisuhan itu lebih sering muncul sebagai respon atas perbuatan seseorang, bukan sebagai sifat orangnya.

Misalnya, ada mobil Pajero berhenti di tengah jembatan, buka pintu, buang sampah! Sulit bagi saya untuk tidak menyebut prilaku itu sebagai goblok. 

Jadi, 'bodoh' dalam pengertian yang dulu sering digunakan untuk menyebut siswa rangking 1 dari belakang, bisa membaca paling akhir, susah diajari matematika, sudah lama saya buang. Sejak menggeluti dunia 'difabilitas', saya diajari untuk melihat mereka sebagai orang yang berbeda cara, berbeda keahlian, berbeda minat.

Kalau saya ketemu mahasiswa yang susah sekali dibimbing untuk mengerjakan skripsi, sama sekali saya tidak punya fikiran dia bodoh. Ia hanya punya keahlian berbeda. Saya lihat, ia pintar main gitar, aktif di grup band, dan ia cerdas di bidangnya itu. Apes saja dia kuliah dan harus menulis skripsi. 

Sedapat mungkin saya bimbing. Lalu skripsi yang ala kadarnya itu saya ACC. Lalu saya gerilya pada para penguji untuk bisa 'memaklumi' kondisi skripsi yang akan diujikan. Tolong ya pak, jangan galak-galak ngujinya. Mau apa lagi? Ia penyanyi, bukan peneliti. 

***

Dalam beberapa kasus, saya malah lebih menilai orang-orang itu sebagai cerdas. Di kampung saya, ada orang yang akan dengan mudah dirasani sebagai 'orang aneh'.  Orang ini bagi ukuran kebanyakan orang dianggap aneh karena melakukan pekerjaan-pekerjaan yang 'kurang gawean' atau tidak lumrah. 

Pas saya nulis ini, orang itu sedang lewat depan rumah saya, mendorong sebuah gerobak yang ia bikin sendiri. Gerobaknya saja sudah aneh. Ia rancang dengan kerangka besi yang biasa dipakai bikin rak dan rodanya berdiameter 20cm yang biasa dipakai roda keranjang di supermarket itu. 

Apa yang sedang lakukan di depan rumah saya? Saya juga tidak paham. Sudah saya bilang kan, "aneh dia". Ia bawa ember air, lalu pakai mesin semprot apa (bikinan dia sendiri), lalu  menyemproti tanaman pagar rumah saya. Pestisida? Entah lah. Baunya harum sih.

Ngomong dan menyapa saya yang sedang bekerja di ruang depan dengan pintu terbuka? Tidak juga. Lha itu nyemport tanaman orang, malam-malam begini, masak diam saja? 

Sudah saya bilang kan, "aneh dia." 

Nah, tetapi saya bilang sama istri saya. Ini orang tidak aneh. Dia orang cerdas. Semua perilaku dia selama ini, yang asosial itu, bukan karena dia bodoh atau aneh. Ia pasti memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Cara kerja otak dia tidak sama dengan cara kerja otak kita. 

Orang aneh, orang bodoh, orang apalah... itu tidak ada sebenarnya. Mereka hanyalah orang yang berpikir dengan cara berbeda, atau memiliki kecerdasan untuk hal-hal yang berbeda dari kita yang merasa bukan orang aneh.

Padahal... Saya sendiri kan yang jadi orang aneh. Mengapa saya menulis panjang lebar begini tentang tetangga saya (yang sedang sibuk bekerja malam) di Facebook dan dibaca banyak orang. Aneh kan? 

Anda lho juga aneh. Wong ghibah begini Anda baca, sampai akhir lagi. Sudah sana kerja lagi, besok Senin!

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama