Catatan Ramadhan (15): Khusyu'

Beberapa waktu yang lalu, salah satu jamaah kami menyampaikan kultum taraweh tentang pentingnya khusyu' dalam shalat. "Kalau kita shalat, yang butuh siapa? Kalau kita yang butuh, agar kebutuhan kita dikabulkan, shalat kita sebaiknya cepat atau khusyu'?"

Khusyu', menurutnya, adalah shalat yang kita menghayati setiap apa yang kita ucapkan, kata per kata. Kita resapi makna per makna. Dengan begitu, maka shalat kita tidak mungkin cepat. Singkatnya, khusyu' sama dengan pelan.

Masalahnya, praktik khusyu' si penceramah tersebut sering mengganggu orang lain saat berjamaah. Demi melafalkan kata per kata, saat jadi makmum ia mengikuti kata per-kata surat al-Fatihah yang dibaca imam. Meski berbisik, bisikan dia sangat kenceng. Dua atau 3 orang di sebelah kiri kanan orang itu pasti masih bisa mendengar. Tidak cukup dengan menirukan imam, ia juga membaca sendiri surat al-Fatihah saat imam membaca ayat-ayat pendek. Kekhusyukan jamaah yang satu ini dibayar dengan terusiknya kekhusyukan orang lain!

***

Menurut beberapa referensi yang saya baca, khusyu' itu tidak terisolasi dalam ritual shalat. Khusyu' itu adalah keadaan yang menjadi hasil dari berbagai keadaan di luar shalat. Untuk memperoleh shalat yang khusyu', hati dan perbuatan kita di luar shalat harus bersih. Kalau kita membiarkan diri kita tidak terjaga dari maksiyat perbuatan dan hati di luar shalat, maka shalat yang khusyu' mustahil tercapai.

Sekali lagi kita menemukan bahwa kesalehan personal saja selalu tidak cukup. Orang yang demi mengejar khusyu personal tetapi mengabaikan jamaah bukanlah orang yang khusyu'. Imam yang baik bukan imam yang bacaannya panjang, yang sujudnya membuat jidat hitam, dan yang ruku'nya bikin jamaah sakit pinggang. Jika khusyu' identik dengan hal-hal tersebut, maka Nabi tidak akan pernah menyarankan para imam untuk meringankan shalat.
إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ بِالنَّاسِ فَلْيُخَفِّفْ ؛ فَإِنَّ فِيهِمُ السَّقِيمَ وَالشَّيْخَ الْكَبِيرَ وَذَا الْحَاجَةِ

Demikian juga diharamkan hukumnya meninggalkan jamaah demi mengejar kekhusyukan pribadi.

Kita juga tahu bahwa shalat sendiri bukan ibadah yang indikator kebaikannya terisolir dalam ritual shalat, tetapi dalam prilaku sosial, dengan peduli kepada anak yatim, memberi makan orang miskin, karena kehusyukan yang ditampak-tampakkan dalam berjamaah mungkin saja menjadi ibadah riya' dan membuat kita sahun (lalai). Demikianlah yang diingatkan dalam al-Ma'un.

Karena khusyu; itu kondisi totalitas di dalam dan di luar shalat, kursus shalat khuyu' seperti yang kita lihat di TV mungkin harus dilengkapi dengan kursus berprilaku khusyu' di luar shalat. Salah satu referensi yang saya temukan menyarankan cara-cara berikut untuk mewujudkan shalat khusyu':
1. Mengenal Allah lebih dekat
2. Meninggalkan maksiyat
3. Memperbanyak amal shaleh.
4. Menjauhkan diri dari hal-hal yang bisa 'membunuh' hati.
5. Melakukan persiapan untuk shalat: (a) meluangkan waktu untuk menata hati sebelum shalat dilaksanakan; (b) datang ke masjid lebih awal; (c) memperbaiki wudlu dan shalat sunnah.
6. Menghadirkan hati untuk shalat.
7. Menghayati makna al-Qur'an yang dibaca imam; jangan malah sibuk membaca ayat sendiri.
8. Memperhatikan gerakan-gerakan shalat.
9. Mengingat mati.
10. Berlindung dari hal-hal yang buruk di dalam pikiran dan perbuatan (setan).

Ini adalah saran yang baik sekali. Saya bisa memerlukan waktu satu, dua, tiga, atau tiga puluh tahun untuk bisa mengamalkan apa yang disarankan penulis tersebut :D

Tetapi, menurut hemat saya, memulai berbuat baik sedikit demi sedikit bisa membantu kualitas shalat kita dan sebaliknya. Wallahu a'lam.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama