Postingan

Launching Buku Membincang Islam dan Disabilitas

Gambar
Buku Membincang Islam dan Disabilitas lahir dari kegelisahan terhadap cara fikih dan lembaga keagamaan selama ini memperlakukan disabilitas. Tradisi Islam memiliki perangkat yang kaya untuk memberi kemudahan melalui rukhṣah, taysīr, dan penghilangan kesulitan. Namun, kemudahan itu belum tentu menghasilkan keadilan. Difabel dapat dibebaskan dari kewajiban berjamaah sementara masjid tetap tidak aksesibel; jamaah Tuli dapat dimaklumi karena tidak memahami khotbah sementara bahasa isyarat tidak disediakan; tunanetra dapat terus bergantung kepada bantuan orang lain sementara informasi keagamaan tetap diproduksi hanya dalam format visual. Dari titik inilah gagasan beyond rukhṣah dikembangkan: bukan untuk meninggalkan kelenturan fikih, tetapi untuk menempatkannya dalam bangunan keadilan yang lebih luas.  Buku ini bukan sekadar kumpulan pembahasan tentang difabel dalam Islam. Arif Maftuhin menulis ulang sejumlah tema yang telah lama ia teliti—fikih, bahasa, masjid, budaya Tuli, perempuan d...

Membincang Islam dan Disabilitas

Gambar
MEMBINCANG ISLAM DAN DISABILITAS: Melampaui Rukhṣah, Menuju Keadilan Inklusif © Arif Maftuhin, 2026 Perancang Sampul: Arif Maftuhin Cetakan Pertama, September 2026 xiv + 268 hlm; 14 × 21 cm ISBN 978-634-7595-06-5 Pembelian : https://wa.me/6285643561514 (Imam) Dalam tradisi fikih, disabilitas sering dibicarakan melalui bahasa keringanan: orang yang tidak mampu berdiri boleh salat sambil duduk, orang yang mengalami hambatan tertentu memperoleh rukhṣah , dan kewajiban disesuaikan dengan kemampuan. Kerangka ini penting, tetapi belum cukup. Masalah muncul ketika hambatan justru berasal dari masjid yang tidak aksesibel, khotbah yang hanya mengandalkan suara, bahan ajar yang tidak dapat diakses, prosedur pengadilan yang tidak menyediakan akomodasi, atau lembaga keagamaan yang merumuskan kebijakan tanpa melibatkan difabel. Membincang Islam dan Disabilitas mengajak pembaca bergerak melampaui rukhṣah . Buku ini tidak menolak kelenturan fikih, tetapi memperluas pertanyaannya: dari “keringanan a...

Khutbah: Sound Horeg dan Teguran untuk Dakwah Kita

Gambar
  اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَه، يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلَالِ وَجْهِكَ الْكَرِيْمِ وَلِعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ. سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ . وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُه. خَيْرَ نَبِيٍّ أَرْسَلَهُ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا إِلَى الْعَالَـمِ كُلِّهِ . اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَامًا دَائِمَيْنِ مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن . أَمَّا بَعْدُ، فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ : اُدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ “Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan berdiskusilah dengan mereka dengan cara ya...

Salawat Sebagai "Powerpoint"

Gambar
Jujur, saya ini bukan orang yang cukup mudah dan percaya diri untuk mengisi pengajian umum. Orang seperti saya bisa berbicara ber-jam-jam di forum akademik untuk berbicara tentang integritas akademik, riset, sampai dengan topik-topik yang saya geluti seperti Fikih Sosial dan disabilitas. Tetapi begitu harus memenuhi undangan pengajian umum, apa pun levelnya, saya selalu lebih cemas daripada bertemu para profesor dari luar negeri sekali pun. Problemnya? Mungkin karena saya biasa bicara terstruktur, argumen terstruktur, bicara seefisien mungkin seperti ketika menulis artikel. Di pengajian umum, kita harus bicara satu jam atau lebih dengan tema yang tak selalu bisa difokuskan karena kita berhadapan dengan audien yang tak terduga keragamannya dan dengan materi yang sesederhana mungkin. Saya lihat, banyak orang mengisi pengajian itu bicara ke sana kemari, tidak fokus. Bicara bisa dua jam tetapi ya topiknya sambung menyambung, mengalir saja begitu.   Nah, saya sedang mencoba teknik ...

Membaca Disabilitas dengan Paradigma Fikih Sosial

Gambar
Arif Maftuhin, “Usul Fiqh Interdisipliner: Membaca Disabilitas dengan Paradigma Fikih Sosial” (310–324), dalam Ushul Fikih Kontemporer: Epistemologi, Metodologi, dan Transformasi Hukum Islam di Era Modern,  Editor: Muhamad Ulul Albab Musaffa, Lembaga Kajian Dialektika, Tangerang Selatan, 2026, Cetakan: Pertama, Mei 2026, ISBN: 978-634-7342-51-5 --------------- Tulisan ini berangkat dari kegelisahan yang sudah cukup lama saya bawa dalam menulis tentang fikih dan disabilitas: mengapa penyandang disabilitas hampir selalu hadir dalam fikih sebagai orang yang membutuhkan rukhṣah atau dispensasi? Menurut saya, masalahnya tidak semata-mata terletak pada produk fikih, tetapi lebih dalam, pada perangkat epistemologis Usul Fikih yang kita gunakan untuk memproduksi hukum. Usul Fikih klasik bekerja dengan gambaran mukallaf yang cenderung abstrak dan ideal, kuat dalam membaca teks tetapi tidak selalu memiliki perangkat yang cukup untuk menangkap pengalaman manusia, relasi kuasa, hambatan strukt...

Jalan Kanan dan POV Sopir Bus

Gambar
Capek di kursi penumpang, saya pindah ke kursi di samping supir bus wisata yang kami sewa. Duduk saja di samping pak supir itu, saya langsung mendapatkan perspektif yang berbeda. Awalnya, ini hanya soal teknis luasnya sudut pandang jalan dari posisi itu. "Wah, ternyata enak ya Pak sudut pandang supir bus itu. Luas, tidak seperti saya kalau nyetir Ertiga." Sapa saya membuka percakapan. Maklum, selama perjalanan, sama kenek pun dia tidak ngobrol. Jadi, saya harus pastikan beliau tipe supir yang berani melanggar aturan (dilarang bicara dengan supir). Pancingan saya kena. Saya kaget bahwa beliau sudah berumur 64 tahun! Wuih. "Nggak percoyo kulo, Pak. Njenengan sih ketok 35 tahun ngoten." Ia tersenyum lebar dan bahagia karena saya juga tulus mengatakannya. Ia lalu memulai segala cerita hidupnya. Mulai nyetir usia 16 tahun. Menikmati pekerjaannya sepenuh hati. Nggak pernah nolak kalau diminta juragannya nyupir. "Misale, niki mangke dugi Jogja njenengan ken bidhal mal...

Redesain Web via ChatGPT

Gambar
Libur panjang akhir pekan lalu saya gunakan untuk mengerjakan satu hal yang sepertinya tak akan saya kerjakan lagi: mendesain ulang website maftuh.in! Ya, saya kira lho ya, saya nggak akan punya waktu lagi untuk mengerjakan hal beginian. Dulu, saya selalu meluangkan waktu memang untuk mendesain ulang blog saya. Sejak 2005, tahun kenalan saya dengan dunia blog, saya termasuk antusias untuk belajar kode-kode HTML. Hobi saja, nggak bisa dijelaskan. Saya bisa berhari-hari mengerjakan ini itu, mencari kode ini itu untuk berbagai fungsi dari yang sederhana soal tipografi sampai dengan layout. Kurang kerjaan sekali. Tetapi sama dengan Anda yang hobi mancing buang waktu di pinggir kolam atau kali, saya juga begitu: buang waktu di depan komputer untuk memecahkan berbagai kode. Saya sudah lama tidak mengerjakan itu lagi. Terakhir saya kerjakan website (blog) saya itu entah kapan. Itu pun saya hanya comot template gratis dengan modifikasi sangat minimal. Nggak punya waktu. Sampai beberapa waktu l...

Kebaikan yang Dilupakan

Gambar
Kemarin, kami makan siang bersama di Sate Cempe Lemu, Tegal. Kami dalam perjalanan ke Jakarta untuk sebuah acara yang tidak perlu saya ceritakan. 😊 Kami makan sate sambil ngobrol apa saja. Saya teringat sebuah peristiwa lama di Kalimantan. Saya bilang, “Saya dulu pernah lho makan sate Tegal, tetapi di Banjarmasin.” “Kok jauh amat?” kata seorang teman. Saya jawab, seolah orang yang saya maksud tidak di meja makan kami, “Ya, saya ditraktir Kakanwil Kemenag DIY. Ketemu di bandara, terus dibarengi ke hotel, dan mampir makan siang di tengah perjalanan.” Orang yang saya sebut jabatannya itu, dan sekarang jadi Kabiro di UIN, langsung nyaut ketus guyon, “Wah, saya sudah lupa peristiwa itu. Saya selalu melupakan kebaikan-kebaikan yang saya lakukan.” Kurang ajar. 😊 Tetapi, bukankah memang seharusnya begitu? Guyon itu kedengarannya saja yang seperti sombong. Ajaran agamanya ya begitu. Berbuat baiklah seolah tangan kirimu tidak melihat yang dilakukan tangan kananmu. Ya kan? Pagi ini, saat sarapa...

Kampus Inklusif itu Tentang Kita Juga

Gambar
Minggu lalu saya mendapatkan kehormatan menjadi penguji eksternal atas undangan Pak Dir Muhyar Fanani. Sebagai alumni IAIN Walisongo Cabang Sriwedari, saya sebenarnya tidak merasa eksternal amat. Pulang ke almamater juga 😊 Saat tiba di kampus Jerakah, saya segera menuju ruang sidang terbuka di lantai tiga. Bunga bunga ucapan selamat tampak di beberapa sudut. Di lantai satu, di dekat tangga, saya sapa seorang ibu sepuh untuk mendahuluinya naik. Undangan lain saya lihat sudah memenuhi ruangan ujian. *** Singkat cerita, ujian yang dipimpin langsung Pak Rektor Musahadi Ham berlangsung lancar hingga akhir. Sebelum menutup sidang, beliau sempatkan menyapa para tamu undangan istimewa. Ada satu nama yang di daftar tetapi tidak ada di ruangan: ibu mas promovendus. "Beliau di bawah, tidak sanggup naik ke lantai tiga," katanya. Momen penting lulus doktor adalah momen langka. Mahasiswa saya yang baru lulus munaqosah saja sekarang sudah merayakan sedemikian rupa. Bunga bunga ucapan selam...

Mengajar Maqasid di UIN Gus Dur

Gambar
Akhir tahun lalu, saya diundang ke UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan untuk menjadi narasumber sebuah seminar internasional. Selesai acara, kami ngobrol dengan beberapa dosen, termasuk Prof. Ade Dedi Rohayana, Direktur Pascasarjana. Di tengah obrolan itu, beliau sempat bilang begini, “Kapan-kapan Njenengan mengajar di Pascasarjana ya.” Saya tentu menjawab langsung, “Siaaap, terhormat sekali kalau saya diberi waktu mengajar.” Ini jawaban aman sebenarnya. Kalau tawaran itu serius, saya siap. Kalau basa-basi akademik, ya saya maklumi. Kan kadang begitu, ada kalimat yang tampak seperti undangan, padahal hanya keramahan. Ada kalimat yang terdengar basa-basi, ternyata dicatat sekretariat, diberi nomor, lalu menjadi surat tugas. Awalnya saya kira itu termasuk obrolan jenis pertama: keramahan setelah acara. Pulang ke Jogja, saya pun tidak mengingatnya. Hidup berjalan seperti biasa. Rapat datang bertubi-tubi. Mahasiswa bimbingan bertanya kapan bisa konsultasi, meskipun sering kali naskahnya...

Khutbah Idul Adha 1447H: Meneladani Iman Keluarga Ibrahim

Gambar
اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ لِلهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا . اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ جَعَلَ إِبْرَاهِيْمَ خَلِيْلًا وَإِمَامًا، وَجَعَلَ فِيْ سِيْرَتِهِ لِلْمُؤْمِنِيْنَ هُدًى وَنِظَامًا، وَابْتَلَاهُ فَكَانَ صَابِرًا مُنِيْبًا، وَأَمَرَهُ فَكَانَ مُسَلِّمًا مُطِيْعًا، وَجَعَلَ مِنْ بَيْتِهِ بَيْتَ إِيْمَانٍ وَقُرْبَانٍ، وَمِنْ أَهْلِهِ أَهْلَ صَبْرٍ وَتَسْلِيْمٍ وَإِحْسَانٍ . اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ عَلَّمَنَا مِنْ إِيْمَانِ إِبْرَاهِيْمَ صِدْقَ التَّوْحِيْدِ وَحُسْنَ الْيَقِيْنِ، وَمِنْ سَعْيِ هَاجَرَ قُوَّةَ الصَّبْرِ وَ التَّوَكُّل فِي كُلِّ حِيْنٍ، وَمِنْ طَاعَةِ إِسْمَاعِيْلَ أَدَبَ التَّسْلِيْمِ لِرَبِّ الْعَالَمِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ عَبْدٍ يَرْجُوْ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُ عَذَابَهُ، وَيَطْلُبُ رِضَاهُ وَيَسْتَغْفِرُ ذَنْبَهُ، وَيُؤْمِنُ أَنَّ الْمُلْكَ مُلْكُهُ، وَالْأَمْرَ أَمْرُهُ، وَالْفَضْلَ فَضْلُهُ، وَالْقَضَاءَ قَضَ...

Menunaikan Haji di Negeri Sendiri

Gambar
  Khotbah untuk mereka yang tidak dipanggil ke tanah suci اَلْحَمْدُ للهْ، اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ مَثَابَةً لِلنَّاسِ وَأَمْنًا، وَفَرَضَ الْحَجَّ عَلَى مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيْلًا، وَدَعَا عِبَادَهُ إِلَى طَهَارَةِ الْقُلُوْبِ وَتَزْكِيَةِ النُّفُوْسِ وَالتَّقْوَى . أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، الدَّاعِيْ بِقَوْلِهِ وَفِعْلِهِ إِلَى الْهُدَى . اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ هُدَاةِ الْوَرَى . أَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ . قَالَ اللهُ تَعَالَى في كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ، وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى Hadirin sidang Jumat yang dimuliakan Allah. Pada hari-hari ini, saudara-saudara kita dari Indonesia sudah mulai berdatangan di Tanah Suci. Sebagian sudah berada di Madinah. Sebagian...

Khutbah Hari Buruh 1 Mei 2026: Kritik terhadap Fikih Perburuhan

Gambar
  اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي جَعَلَ الْعَدْلَ قِوَامَ الْحَيَاةِ، وَحَرَّمَ الظُّلْمَ وَالْبَغْيَ، وَأَمَرَ بِأَدَاءِ الْحُقُوْقِ إِلَى أَهْلِهَا، وَنَهَى عَنْ أَكْلِ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ، نَحْمَدُهُ عَلَى نِعَمِهِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةً تَكُوْنُ نُوْرًا لِقَائِلِهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، بَلَّغَ الرِّسَالَةَ وَأَدَّى الْأَمَانَةَ، وَنَصَحَ الْأُمَّةَ، وَحَذَّرَهَا مِنَ الظُّلْمِ وَالتَّعَدِّي، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَمَّا بَعْدُ، عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ، فَإِنَّ التَّقْوَى أَسَاسُ الْعَدْلِ وَمِفْتَاحُ النَّجَاةِ . قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ : يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا لَا تَأْكُلُوْا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُوْنَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ وَلَا تَقْتُلُوْا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللهَ كَانَ بِكُمْ ...

Kalender Hijriah yang “Tidak Ilmiah”

Gambar
Setiap Ramadan tiba, perdebatan awal bulan selalu berulang dengan pola narasi yang sama. Perbedaan tanggal disebut-sebut disebabkan oleh dua cara menetapkan awal bulan: yang satu “kuno” karena harus melihat hilal di ufuk (ru’yah), yang satu “canggih” karena berbasis hitungan (hisab) astronomi yang dianggap “ilmiah”. Ada pula yang ekstrem: pemerintah dituduh boros karena masih menggelar rukyat dan sidang isbat. Cara berdebat seperti itu, menurut saya, menutup ruang berpikir yang jernih. Debat yang menyederhanakan sesuatu yang jauh lebih kompleks. Persoalan awal bulan bukan sekadar persoalan “ilmiah” dalam arti kosmologis, melainkan melibatkan keputusan-keputusan teknis dan pilihan desain sistem yang justru bersifat konvensional.  *** Dulu sekali, ketika belum ada sistem pencatatan modern, ketika orang berutang dan berjanji melunasi, fenomena alam adalah satuan waktu paling netral yang dapat disepakati. “Saya kembalikan pinjamannya saat purnama.” Jika bukan purnama pertama, tentu pur...