Menunaikan Haji di Negeri Sendiri

 

Khotbah untuk mereka yang tidak dipanggil ke tanah suci

اَلْحَمْدُ للهْ، اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ مَثَابَةً لِلنَّاسِ وَأَمْنًا، وَفَرَضَ الْحَجَّ عَلَى مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيْلًا، وَدَعَا عِبَادَهُ إِلَى طَهَارَةِ الْقُلُوْبِ وَتَزْكِيَةِ النُّفُوْسِ وَالتَّقْوَى.

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، الدَّاعِيْ بِقَوْلِهِ وَفِعْلِهِ إِلَى الْهُدَى. اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ هُدَاةِ الْوَرَى.

أَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى في كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ، وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى

Hadirin sidang Jumat yang dimuliakan Allah.

Pada hari-hari ini, saudara-saudara kita dari Indonesia sudah mulai berdatangan di Tanah Suci. Sebagian sudah berada di Madinah. Sebagian sudah berada di Makkah. Ada yang berangkat setelah menabung bertahun-tahun. Ada yang berangkat setelah menunggu antrean sangat panjang. Ada yang mungkin dulu hanya bisa bermimpi melihat Ka‘bah dari gambar, lalu hari ini Allah beri kesempatan melihatnya langsung dengan mata kepalanya sendiri. Tentu kita doakan semoga mereka diberi kesehatan, kemudahan, keselamatan, dan kelak kembali ke tanah air sebagai haji yang mabrur.

Kita, di sini adalah kelompok mereka yang belum dipanggil pergi ke tanah Tanah Suci. Kita masih berada di tengah-tengah keluarga kita, di tengah kesibukan, pekerjaan,  dan urusan-urusan hidup kita. Kita tidak sedang memakai kain ihram. Kita tidak sedang bertawaf mengelilingi Ka‘bah. Kita tidak sedang bersiap wukuf di Arafah.

Tetapi, izinkanlah saya mengajak kita semua untuk merenung: apakah ibadah haji hanya memberi pelajaran kepada orang yang berangkat Tanah Suci? Apakah orang yang tidak pergi haji tidak mendapat bagian apa-apa dari ibadah yang agung ini?Haji memang hanya wajib bagi orang yang mampu. Tetapi panggilan untuk mendekat kepada Allah berlaku bagi semua orang. Tidak semua orang dipanggil untuk pergi ke Tanah Suci, tetapi semua orang dipanggil untuk mendekat diri kepada Ilahi. Jadi, bukan hajinya yang dapat kita tunaikan di sini, tetapi makna ritualnya harus hadir dalam kehidupan sehari-hari.

Pertama, marilah kita sadari bahwa jarak paling penting bukanlah jarak rumah kita ke Makkah, tetapi jarak hati kita kepada Allah. Ada orang yang tinggal jauh dari Makkah, tetapi hatinya dekat kepada Allah. Ada pula orang yang tubuhnya sudah sampai ke Tanah Suci, tetapi hatinya masih sibuk dengan dunia, gengsi, belanja, foto, pujian, dan pengakuan manusia. Karena itu, jangan sampai kita merasa tidak punya jalan menuju Allah hanya karena belum punya kesempatan berangkat haji. Jangan pula kita merasa sudah dekat kepada Allah hanya karena pernah sampai ke Baitullah. Ukuran kedekatan kepada Allah bukan paspor, bukan visa, bukan tiket pesawat, bukan koper besar, dan bukan pula foto di depan Ka‘bah. Ukurannya adalah takwa, keikhlasan, dan perubahan hidup.

Hadirin sidang Jumat yang dimuliakan Allah.

Haji mengajarkan perjalanan. Tetapi perjalanan paling berat bukan perjalanan dari rumah ke bandara, lalu dari bandara ke Jeddah atau Madinah. Perjalanan paling berat kadang justru perjalanan dari kesombongan menuju kerendahan hati, dari serakah menuju cukup, dari iri menuju syukur, dari dendam menuju maaf, dan dari hidup yang berpusat pada diri sendiri menuju hidup yang berpusat kepada Allah.

Kedua, marilah kita ihramkan diri kita setiap hari. Ihram bukan hanya kain putih yang dipakai jamaah haji. Ihram adalah tanda bahwa manusia sedang menanggalkan pakaian kesombongan. Ketika orang berihram, ia meninggalkan pakaian kebesarannya. Tidak ada jas pejabat dan tidak ada gelar yang ditempelkan pada kain ihram. Maka, kita yang tidak memakai kain ihram pun perlu belajar berihram dalam hidup sehari-hari. Berihram dari kesombongan. Berihram dari kebiasaan merendahkan orang lain.  Allah sudah mengingatkan kita:  إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

Hadirin sidang Jumat yang dimuliakan Allah.

Di hadapan manusia, kita memang sering dibedakan oleh alamat rumah, jenis pekerjaan, kendaraan, gelar, jabatan, dan isi rekening. Tetapi di hadapan Allah, semua itu tidak laku sebagai ukuran kemuliaan. Jangan sampai kita belum pernah memakai kain ihram, tetapi sudah merasa punya hak istimewa di hadapan Allah.

Ketiga, marilah kita tawafkan hidup kita hanya kepada Allah, bukan kepada harta, tahta, dan dunia. Jamaah haji bertawaf mengelilingi Ka‘bah. Semua bergerak mengitari satu pusat yang sama. Dari mana pun mereka datang, bahasa apa pun yang mereka gunakan, warna kulit apa pun yang mereka miliki, semuanya menghadap kepada pusat yang sama. Tawaf mengajarkan bahwa hidup manusia harus punya pusat. Tanpa pusat, manusia bisa tersesat, sibuk bergerak, tetapi tidak jelas arahnya. Bisa lelah setiap hari, tetapi tidak tahu untuk apa. Bisa bekerja keras, tetapi hatinya makin kosong. Bisa mengumpulkan banyak hal, tetapi jiwanya tetap merasa kurang.

Maka, pertanyaan penting untuk kita adalah: hidup kita sebenarnya sedang bertawaf mengelilingi apa? Jangan-jangan hidup kita bertawaf mengelilingi materi. Semua diukur dengan untung-rugi.  Jangan-jangan hidup kita bertawaf mengelilingi jabatan. Semua hubungan dibaca sebagai peluang. Semua pertemuan dihitung sebagai investasi. Semua senyum dipasang bukan karena tulus, tetapi karena siapa tahu suatu hari berguna. Jangan-jangan hidup kita bertawaf mengelilingi gengsi. Membeli sesuatu bukan karena butuh, tetapi karena takut dianggap kalah. Memamerkan sesuatu bukan karena penting, tetapi karena ingin dilihat.

Hadirin sidang Jumat yang dimuliakan Allah.

Harta penting. Jabatan bisa menjadi amanah. Dunia juga harus diurus dengan baik. Islam tidak mengajarkan kita untuk lari dari dunia. Tetapi harta, takhta, dan dunia tidak boleh menjadi Ka‘bah kehidupan. Semuanya harus berputar dalam orbit rida Allah. Kalau Allah menjadi pusat, harta dicari dengan halal, jabatan dijalankan dengan amanah, keluarga dijaga dengan kasih sayang, dan tetangga tidak disakiti karena perkara kecil. Banyak orang tidak menyembah berhala, tetapi diam-diam hidupnya sujud kepada harta, takhta, dan tepuk tangan manusia.

Keempat, marilah kita wukufkan keserakahan kita. Wukuf berarti berhenti. Puncak haji bukan belanja, bukan foto, bukan oleh-oleh, dan bukan cerita panjang setelah pulang nanti. Puncak haji adalah wukuf di Arafah. Diam, berdoa, mengakui kelemahan diri, dan berdiri sebagai hamba di hadapan Allah.

Nabi bersabda: Haji adalah Arafah. اَلْحَجُّ عَرَفَةُ  -

Kita yang tidak berada di Makkah pun tetap membutuhkan Arafah kecil dalam hidup kita. Saat ketika kita berhenti dari keramaian dunia. Saat kita berhenti dari ambisi yang tidak mengenal cukup. Saat kita berhenti dari iri hati yang membuat hidup orang lain tampak lebih indah. Saat kita berhenti dari dendam yang membuat hati tidak pernah selesai. Mungkin wukuf terbesar bagi kita bukan berdiri di Padang Arafah, tetapi menghentikan keserakahan yang selama ini kita pelihara di dalam dada. 

Kita perlu mewukufkan nafsu yang selalu ingin lebih. Lebih banyak uang, lebih tinggi jabatan, lebih dihormati orang, lebih menang dalam perdebatan, lebih tampak benar, lebih tampak saleh, lebih tampak berhasil. Padahal, tidak semua yang lebih banyak membuat hidup lebih berkah. Tidak semua yang lebih tinggi membuat manusia lebih mulia. Tidak semua yang lebih tampak membuat hati lebih tenang.

Maka, sesekali kita perlu berhenti dan bertanya kepada diri sendiri: apa sebenarnya yang sedang saya kejar? Untuk apa saya bekerja? Untuk apa saya marah? Untuk apa saya iri? Untuk apa saya terus membandingkan hidup saya dengan hidup orang lain? Apakah umur saya makin dekat kepada Allah, atau hanya makin tua dan makin sulit dinasihati?

Hadirin sidang Jumat yang dimuliakan Allah.

Cukuplah haji menjadi cermin bagi kita. Saudara-saudara kita yang berangkat ke Tanah Suci sedang menunaikan ibadah dengan tubuh mereka. Kita yang berada di sini harus menunaikan pelajarannya dengan hati kita. Tidak semua kaki dipanggil menginjak Tanah Suci, tetapi semua hati dipanggil mendekat kepada Ilahi. Mari kita ihramkan kesombongan kita. Mari kita tawafkan hidup kita hanya kepada Allah. Mari kita wukufkan keserakahan kita.

Semoga saudara-saudara kita yang sedang berhaji diberi haji yang mabrur. Semoga kita yang belum berangkat juga diberi hati yang terus berjalan menuju Allah. Sebab kaki kita mungkin belum pernah sampai ke Makkah, tetapi jangan sampai hati kita terlalu betah tinggal jauh dari Allah.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ للهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ، وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ، فَقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَنْبِيَائِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَائِكَتِكَ الْمُقَرَّبِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ يَسِّرْ لِحُجَّاجِ بَيْتِكَ الْحَرَامِ حَجَّهُمْ، وَاحْفَظْهُمْ فِيْ سَفَرِهِمْ وَمَنَاسِكِهِمْ، وَرُدَّهُمْ إِلَى أَهْلِيْهِمْ سَالِمِيْنَ غَانِمِيْنَ، وَاجْعَلْ حَجَّهُمْ حَجًّا مَبْرُوْرًا، وَسَعْيَهُمْ سَعْيًا مَشْكُوْرًا، وَذَنْبَهُمْ ذَنْبًا مَغْفُوْرًا. اَللّٰهُمَّ وَارْزُقْنَا رُوْحَ الْحَجِّ وَإِنْ لَمْ تَبْلُغْ أَقْدَامُنَا إِلَى بَيْتِكَ الْحَرَامِ. اَللّٰهُمَّ أَحْرِمْ قُلُوْبَنَا عَنِ الْكِبْرِ وَالرِّيَاءِ، وَطَوِّفْ حَيَاتَنَا حَوْلَ رِضَاكَ وَهُدَاكَ، وَأَوْقِفْ نُفُوْسَنَا عَنْ حُبِّ الدُّنْيَا وَالشَّهَوَاتِ، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الْمُتَّقِيْنَ.


*) Khutbah 15 Mei 2026, Masjid Rahmatan lil-Alamin, Botokenceng, Banguntapan, Bantul


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama