Kampus Inklusif itu Tentang Kita Juga


Minggu lalu saya mendapatkan kehormatan menjadi penguji eksternal atas undangan Pak Dir Muhyar Fanani. Sebagai alumni IAIN Walisongo Cabang Sriwedari, saya sebenarnya tidak merasa eksternal amat. Pulang ke almamater juga 😊

Saat tiba di kampus Jerakah, saya segera menuju ruang sidang terbuka di lantai tiga. Bunga bunga ucapan selamat tampak di beberapa sudut. Di lantai satu, di dekat tangga, saya sapa seorang ibu sepuh untuk mendahuluinya naik. Undangan lain saya lihat sudah memenuhi ruangan ujian.

***

Singkat cerita, ujian yang dipimpin langsung Pak Rektor Musahadi Ham berlangsung lancar hingga akhir. Sebelum menutup sidang, beliau sempatkan menyapa para tamu undangan istimewa. Ada satu nama yang di daftar tetapi tidak ada di ruangan: ibu mas promovendus.

"Beliau di bawah, tidak sanggup naik ke lantai tiga," katanya.

Momen penting lulus doktor adalah momen langka. Mahasiswa saya yang baru lulus munaqosah saja sekarang sudah merayakan sedemikian rupa. Bunga bunga ucapan selamat beraneka rupa. Bisa dibayangkan bahagianya lulus S3, baik bagi si mahasiswa atau orang tuanya.

Absennya sang ibu di ruang sidang mulia itu sebenarnya menyisakan cerita untuk kita semua: ruang kelas dan kampus yang aksesibel itu bukan hanya untuk mahasiswa difabel, tetapi untuk kita semua.

Kita tidak akan selamanya muda, dan disabilitas bisa menghampiri kita, kapan saja, mungkin tidak sampai usia senja seperti sang ibunda.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama