Salawat Sebagai "Powerpoint"
Jujur, saya ini bukan orang yang cuklup mudah dan percaya diri untuk mengisi pengajian umum. Orang seperti saya bisa berbicara ber-jam-jam di forum akademik untuk berbicara tentang integritas akademik, riset, sampai dengan topik-topik yang saya geluti seperti Fikih Sosial dan disabilitas. Tetapi begitu harus memenuhi undangan pengajian umum, apa pun levelnya, saya selalu lebih cemas daripada bertemu para profesor dari luar negeri sekalipun.
Problemnya? Saya biasa bicara terstruktur, argumen terstruktur, bicara seefisien mungkin seperti ketika menulis artikel. Di pengajian umum, kita harus bicara satu jam atau lebih dengan tema yang tak selalu bisa difokuskan karena kita berhadapan dengan audien yang tak terduga keragamannya dan dengan materi yang sesederhan mungkin. Saya lihat, banyak orang mengisi pengajian itu bicara kesana kemari, tidak fokus. Bicara bisa dua jam tetapi ya topiknya sambung menyambung, mengalir saja begitu.
Nah, saya sedang mencoba teknik baru. Saya share mungkin ada yang tertarik untuk menggunakannya. Sebut saja ini sebagai "salawat sebagai power point". Fungsi personalnya sebagai pembicara adalah seperti powerpoint untuk presentasi: kita dituntun halaaman demi halaman untuk menyampaikan materi secara terstruktur dan audiens nyambung dengan visualisasi gagasan kita. Bedanya, kali ini kita gunakan bait demi bait syair salawat sebagai power point.
Selain berguna bagi kita, sama seperti power point membantu audiens, syari salawat juga bisa kita gunakan untuk melibatkan audiens, agar mereka fokus ke pengajian, dan mengangkap pesan-pesan kita dengan lebih mudah.
Contohnya adalah salawat yang saya buat untuk pengajian muslimat hari ini. Lima pesan pengajian saya bungkus dalam limat bait syair. Nah, agar audiens juga cepat terlibat, saya pilih melodi dan pola Salawat Asyghil. Melodinya sederhana, semua orang bisa, dan yang penting suara saya sendiri "nyandak".
ุงَُّูููู َّ ุตَِّู ุนََูู ุณَِّูุฏَِูุง ู ُุญَู َّุฏٍ * َูุซَุจِّุชَْูุง ุนََูู ุงْูุฅِูู َุงِู َูุงْูุฅِุณَْูุงู ِ
َูุงْูุฏَِูุง ุตِุฑَุงุทََู ุงْูู ُุณْุชَِููู َ * َูุนََูู ุขِِูู َูุตَุญْุจِِู ุฃَุฌْู َุนَِูู
ุงَُّูููู َّ ุตَِّู ุนََูู ุณَِّูุฏَِูุง ู ُุญَู َّุฏٍ * َูุจَุงุฑِْู ََููุง ِูู ุงْูุนُู ْุฑِ ุทَُูู ุงูุณَِِّููู
َูุงุฌْุนََْููุง ِูู ุนُู ْุฑَِูุง َูุงِูุนَِูู * َูุนََูู ุขِِูู َูุตَุญْุจِِู ุฃَุฌْู َุนَِูู
ุงَُّูููู َّ ุตَِّู ุนََูู ุณَِّูุฏَِูุง ู ُุญَู َّุฏٍ * َูุงุฑْุฒُْู ََููุง َูู َุง ุฑَุฒَْูุชَ ุงูุตَّุงِูุญَِูู
َูุฃَุบَِْููุง ุจَِูุถَِْูู ุฃَุฌْู َุนَِูู * َูุนََูู ุขِِูู َูุตَุญْุจِِู ุฃَุฌْู َุนَِูู
ุงَُّูููู َّ ุตَِّู ุนََูู ุณَِّูุฏَِูุง ู ُุญَู َّุฏٍ * َูุฃَุตِْูุญْ ََููุง ุฃَََْูููุง َูุงْูุจََِููู
َูุงุฌْู َุนْ ََููุง ุดَู ََْููุง ู ُุชَّุญِุฏَِูู * َูุนََูู ุขِِูู َูุตَุญْุจِِู ุฃَุฌْู َุนَِูู
ุงَُّูููู َّ ุตَِّู ุนََูู ุณَِّูุฏَِูุง ู ُุญَู َّุฏٍ * َูุงุฎْุชِู ْ ََููุง ุจِุฎَْูุฑٍ ู َุนَ ุงูุตَّุงِูุญَِูู
َูุงุญْุดُุฑَْูุง ِูู ุฒُู ْุฑَุฉِ ุงْูู ُุญْุณَِِููู * َูุนََูู ุขِِูู َูุตَุญْุจِِู ุฃَุฌْู َุนَِูู

Comments
Thoughts, questions, and responses are welcome.
Posting Komentar