Capek di kursi penumpang, saya pindah ke kursi di samping supir bus wisata yang kami sewa. Duduk saja di samping pak supir itu, saya langsung mendapatkan perspektif yang berbeda. Awalnya, ini hanya soal teknis luasnya sudut pandang jalan dari posisi itu.

"Wah, ternyata enak ya Pak sudut pandang supir bus itu. Luas, tidak seperti saya kalau nyetir Ertiga." Sapa saya membuka percakapan. Maklum, selama perjalanan, sama kenek pun dia tidak ngobrol. Jadi, saya harus pastikan beliau tipe supir yang berani melanggar aturan (dilarang bicara dengan supir).

Pancingan saya kena. Saya kaget bahwa beliau sudah berumur 64 tahun! Wuih. "Nggak percoyo kulo, Pak. Njenengan sih ketok 35 tahun ngoten." Ia tersenyum lebar dan bahagia karena saya juga tulus mengatakannya. Ia lalu memulai segala cerita hidupnya.

Mulai nyetir usia 16 tahun. Menikmati pekerjaannya sepenuh hati. Nggak pernah nolak kalau diminta juragannya nyupir. "Misale, niki mangke dugi Jogja njenengan ken bidhal maleh ngoten pripun?" Tanpa ragu dia jawab, "Lha siap! Dua bus lainnya di PO ini dipegang dua supir. Khusus bus ini supirnya cuma saya, Mas."

Satu hal terpenting yang saya pelajari hari ini saat duduk di sampingnya dari Kendal sampai Jogja adalah POV supir di jalan tol. Mungkin Anda juga perlu mendengar agar di jalan bisa lebih memahami mereka.

Misalnya, saya dulu sering jengkel melihat mereka karena mereka saya anggap sama dengan para "lane hogger" itu. Sukanya di jalur kanan, meskipun tidak sedang mendahului. Padahal, aturan tol sangat jelas dan terulang di mana-mana sepanjang jalan: jalur kanan hanya untuk mendahului.

Ia bilang, "Kalau saya di kiri, kecepatan saya ikut truk. Kapan saya sampai? Kalau harus gonta-ganti jalur untuk mendahului, susah, Mas, karena bodi bus ini sangat besar. Manuvernya nggak selincah mobilmu."

Begitu ia bilang itu, saya langsung paham. Saya rasakan betul bagaimana mas sopir harus berkali-kali mengendalikan mobilnya di jalur yang sama tanpa bisa manuver selincah mobil Ertiga. "Oh, ngoten nggih. Besok lagi, saya akan menghormati para supir bus."

Bus bukan lane hogger. Aturan di jalan tol itu boleh saja kita gunakan pada saat dan untuk mobil-mobil yang tepat. Mungkin begitu cara bijaknya. Sing penting podo slamete, ra sah golek benere. 

Comments

Thoughts, questions, and responses are welcome.