Shalat Shalat ala Amerika


"Shalat-shalat ala Amerika" dalam Berguru ke Kiai Bule: Serba-serbi Kehidupan Santri di Barat
Penerbit: Noura Books (Jakarta)
Tahun: 2013
ISBN: 978-602-7816-06-0

“Masih ingat shalat nggak di sana?” tanya salah seorang teman saat saya pulang menengok Ilya, si bayi mungil putri kedua kami yang saya tinggalkan di tanah air saat usianya baru tujuh bulan di dalam kandungan. “Bukan hanya ingat…, lebih rajin je!” jawab saya serius. Saya, memang “lebih rajin” ke masjid daripada saat di tanah air. Kalau sebelum kuliah di Amerika,saya paling hanya shalat berjamaah Maghrib, saya jadi lebih sering ke masjid, walau kadang harus bangun jam 03.00 dan berjalan 3 blok di bawah guyuran butir-butir lembut salju untuk sholat subuh yang maju ke dini hari karena waktu siang yang pendek di musim dingin.

Di Indonesia, saya dulunya jarang ke masjid karena mungkin terlalu banyak masjid di sini. Ya, terlalu banyak, hingga banyak masjid yang tak terisi penuh kecuali hari Jumat. Dan karena banyak, kita jadi kurang menghargai keberadaaan masjid persis seperti kata pepatah, “Kita tak akan menghargai sumur sampai kemarau datang dan sumur kita mengering.”

Masjid hanya salah satu contoh. Kebanyakan dari kita menjadi muslim dengan sangat mudah, semudah menemukan masjid. Lazimnya, kita menerima begitu saja agama kita dari orang tua kita. Tak ada perjuangan menemukan Tuhan seperti petualangan yang dialami Ibrahim. Tak tahannuts (mengheningkan cipta, membersihkan diri agar bertemu Tuhan) di Gua Hira seperti Nabi kita Muhammad. Saat kita lahir, adzan sudah dibisikkan di telinga kita, saat kita kanak-kanan sebagian kita sudah terlebih dulu mengenal bahasa agama daripada bahasa Indonesia. Karena sedemikian mudahnya menjadi muslim, kita jadi tak mengharagi iman kita.

“It was amazing to be in a Muslim country. It was like that whenever dan wherever we go, God is always with us.” Demikian kata teman sekamar saya, Muslim Amerika “asli” yang menceritakan pengalamannya tinggal beberapa bulan di Yaman. “Dimana-mana ada masjid, dimana-mana kita mendengar suara adzan. Bahkan di kabin pesawat pun kami diingatkan untuk shalat.” Ia bercerita dengan penuh takjub, penuh rindu, seolah-olah ia baru saja pulang dari surga Yaman, negeri Muslim seperti kita di Indonesia, dan kembali ke “neraka” Amerika.

Kalau teman Amerika saya sangat terkesan dengan pengalaman kedekatannya dengan suasana serba sholat, saya akan ceritakan berbagai suasana saya yang “jauh” dari serba sholat.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama