Merumuskan Fiqih Kesejahteraan Sosial:Studi atas Pemikiran Sahal Mahfudh dan Jasser Auda


INTERKONEKSI ISLAM DAN KESEJAHTERAAN SOSIAL: 
 Teori, Pendekatan dan Studi Kasus
Yogyakarta: Prodi Kesejahteraan Sosial UIN Suka dan Samudra Biru,
Cetakan I, Desember 2012
ISBN: 978-602-9276-18-3


Setelah dibukanya jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial di UINSunan Kalijaga Yogyakarta, sejarah kesejahteraan sosial di Indonesiamemasuki babak baru: untuk pertama kalinya ilmu kesejahteraansosial bersentuhan langsung dengan kajian keislaman. Di UINSunan Kalijaga, masuknya social work dalam rumpun ‘ilmu dakwah’memancing diskusi yang serius karena harus mencarikan pijakanepistemologis social work di dalam rumpun ilmu dakwah. Padahal,sampai ketika social work masuk ke Fakultas Dakwah, jurusan-jurusandi lingkungan Fakultas Dakwah sendiri belum semua menemukanbasis epistemologisnya. Jika awalnya pergulatan terjadi dalam menemukan basisepistemologis bagi jurusan-jurusan baru di Fakultas Dakwah, kini yang terjadi justru sebaliknya. Social work , terutama yang datang keUIN Sunan Kalijaga melalui jembatan McGill University di Kanada,adalah disiplin ilmu dan profesi yang sudah matang, lengkap denganbasis epistemologis dan kerangka kerja profesionalnya.

Di sisi yang lain, karena tempat social work di UIN yang berbasis islamic studies dan berambisi mempertahankan karakter keislamannya melaluipengintegrasian islamic studies dengan ilmu-ilmu ‘sekuler’ (Pokja Akademik, 2006) maka tantangan yang muncul dan tak terelakkan adalah bagaimana mempertemukan ilmu-ilmu keislaman dengan social work.

Dalam upaya ini, untungnya, kita tidak harus memulainya dari nol. Secara terpisah dan terlepas dari wacana social work, sejumlah pemikiran mutakhir di bidang Fiqih secara kebetulan juga menggagas isu-isu yang sebenarnya terkait dengan social work dan kesejahteraansosial. Dua di antaranya cukup menarik untuk dikaji karena keduanya mengantarkan kita ke jalan yang lebih dekat kepada pertemuan Fiqih dan kesejahteraan sosial. Pertama , dan tidak jauh dari kita, adalah gagasan-gagasan K.H. Sahal Mahfudh tentang Fiqih Sosial. Meskitidak sepenuhnya baru, pengenal istilah Fiqih Sosial oleh SahalMahfudh adalah sebuah terobosan inovatif dalam Fiqih karenasecara tradisional memang tidak dikenal istilah ‘Fiqih Sosial’.

Istilah ini bahkan diadopsi menjadi nama mata kuliah di Prodi IKS untuk menggantikan mata kuliah Fiqih yang dinilai terlalu umum dan tidak cukup relevan dengan kompetensi prodi. Kedua , penafsiran barutentang maqâsid syari’ah yang ditawarkan secara komprehensif oleh Jasser Auda. Dua pemikir ini tidak secara langsung berbicara tentang Fiqih Kesejahteraan Sosial, tetapi keduanya membawa konsep danpemikiran Fiqih yang dari segi key issues -nya menarik untuk diteliti danakan bermanfaat bagi upaya kita untuk ‘mengawinkan’ social work dan islamic studies , khususnya Fiqih

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama