Etika Mengutip!


Dalam sebuah proposal penelitian yang saya review disebutkan, kurang lebih, penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa penggunaan teknologi dalam pembelajaran Bahasa Jepang masih menemui banyak kendala. Salah satunya, menurut penelitian A, adalah ketidakmampuan si guru dalam menggunakan teknologi itu sendiri. 

Karena penelitian A ini adalah "pondasi" penelitian yang akan dilakukan, maka saya cek referensinya. Saya telusuri artikel A, dan saya baca. Dua hal setidaknya yang bermasalah dari penggunaan artikel A ini: Pertama, ia tidak sedang berbicara tentang Indonesia. Kedua, ia bahkan tidak menyebut sama sekali poin ketidakmampuan si guru. 

***

Begini ya, sebagai reviewer yang diminta menjaga "uang negara", saya memang sering melakukan hal seperti ini: mengejar sampai tuntas di bagian pondasi riset untuk memastikan bahwa uang negara tidak jatuh ke tangan peneliti yang tidak bertanggungjawab. Maka, besoknya ketika wawancara, saya sudah kantongi data-data terpenting itu. 

Saya tanyakan kepada si peneliti. "Anda sudah baca artikel A?" 

Peneliti: "Seingat saya sudah pak!"

Saya: "Ingatnya bagaimana? Boleh saya share screen artikelnya ya?"

Lalu saya tunjukkan artikel A tersebut. Saya minta si peneliti untuk menunjukkan di bagian mana artikel itu mengatakan apa yang ia kutip.

Peneliti: "Oh, maaf Pak, kalau yang ini kebetulan belum pernah baca!"

Kaget saya! Bagaimana orang belum membaca tetapi berani mengutip dan menjadi pondasi dari risetnya. Saya tanyakan, lalu bagaimana kuitpan itu bisa muncul di proposal?

Peneliti: "Itu pakai fitur otomatisnya Mendeley Pak!"

***

Jadi, sodara, teknologi itu adalah alat bantu, bukan alat berbuat kejahatan akademik. Ia membantu kita untuk memudahkan riset. Ia menawari kita dengan data, tetapi ketika ia sudah menjadi bagian dari artikel kita, apalagi menjadi dasar riset kita, adalah kewajiban etis kita untuk membaca dan memutuskan: valid tidak risetnya, waktunya relevan atau tidak (fakta dari penelitian 20 tahun lalu apakah masih relevan dirujuk?), cocok dengan Indonesia atau tidak, dan seterusnya.  

Maka, sudah membaca pun masih harus kita seleksi, apalagi ini tidak membaca, diambil begitu saja: etika risetnya bagaimana?

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama