Judi Yahudi

Awal-awal saya di Israel, saya sempat salah sangka dengan kios-kios yang saya temukan di beberapa lokasi. Saya kira, mereka adalah pos layanan informasi wisata kota Yerusalem.  Saya bahkan pernah bertanya tentang sebuah lokasi ke orang yang di kios itu. Salah paham yang gampang terjadi karena tempatnya dan karena saya malas membaca tulisan Ibrani di kios. 

Saya baru kemudian memahaminya. Oh ini orang jual lotre ternyata... Dan memang tulisannya juga kios lotre kalau mau membaca. 😆

Karena jumlahnya yang banyak, saya jadi penasaran juga. Apakah lotre dan judi dihalalkan dalam Yahudi. Islam jelas melarang, tanpa perbedaan pendapat bahwa judi itu haram. Bagaimana saudara tua kita ini berpendapat?

Dari riset saya menemukan bahwa secara 'nas', tidak ada larangan bermain judi dalam agama Yahudi. Tetapi ulama mereka tentu saja berbeda pendapat. Meski tidak diharamkan secara tegas, mayoritas menganggap judi sebagai perbuatan yang tidak baik (frowned upon), atau makruh dalam bahasa kita. Sebagian lagi, membolehkan. Dalam pembahasan bab saksi di pengadilan, misalnya, orang yang berjudi tidak boleh menjadi saksi.

Terlepas dari diskusi yang saya bukan ahlinya itu, loket-loket ini bisa ditemukan di mana saja di Yerusalem. Di depan supermarket langganan saya, misalnya, juga ada kiosnya. 

Lembaga lotre yang paling besar di Israel adalah Mifal HaPayis. Didirikan pada tahun 1951, lotre ini ditujukan untuk menggalang dana pembangunan rumah sakit di Tel Aviv. Kemudian, setelah menjadi organisasi lotre berskala nasional, dana digunakan untuk berbagai kepentingan kesehatan, pendidikan, dan seni. 

Seingat saya, dulu dana yang berhasil dikumpulkan oleh Porkas dan SDSB di Indonesia juga ditujukan untuk kegiatan sosial, khususnya olahraga. Protes keras umat Islam karena judi itu haram dan haram tidak akan membawa berkah bagi dunia olahraga. Kepentingan umum tidak bisa membuat yang halal menjadi haram dan karena itu Porkas dan SDSB dihentikan.

Di Israel, menurut data pada tahun 2007, Mifal HaPayis berhasil mengumpulkan dana sebesar ₪3,848,000,000. dari dana itu ₪2,400,000,000 diberikan sebagai hadiah, sementara ₪1,100,000,000 digunakan untuk berbagai proyek kepentingan umum.

Saya lebih memahami lagi posisi Judi dan Yahudi ini nonton film Shtisel yang berlatar belakang dan bercerita tentang kehidupan sehari-hari orang Yahudi Ortodoks. Dalam sebuah adegan di kios lotre, Akevah (protagonis dalam film ini) bertanya kepada si penjual, "Apa Anda tidak kasihan dengan orang-orang yang beli lotre itu?" 

Si penjual bertanya. "Memang kenapa?" Kata Akivah, "Mereka ini membuang-buang uang keluarganya hanya untuk sebuah mimpi!"

Si penjual menjawab, "Sebaliknya. Kios ini seperti kantor cabang Western Wall."

Hahaha 😀 Ini adegan yang paling saya suka. Lotre dan judi itu mungkin satu-satunya "harapan" bagi orang-orang yang belum tercapai impiannya, nyaris putus asa, dan berharap ada keajaiban yang dapat mengubah hidupnya. Keajaiban seperti yang diharapkan para peziarah di Tembok Ratapan!

Akivah pun menambahkan gongnya. "Begitu ya... dan mereka juga meninggalkan catatan di sini", seperti kertas-kertas harapan yang diselipkan di Tembok Ratapan.


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama