Citasi: Angka atau Bobot


Dengar ada ramai-ramai plagiasi dan citasinya yang sak huhah di Google Scholar? Saya termasuk orang yang tidak kagum dengan citasi Google Scholar tetapi juga tidak mengabaikan. Seperti biasa: mazhab kita adalah mazhab jalan tengah. Sikap yang sama yang saya pilih soal penggunaan Turnitin atau jurnal terindeks Scopus. Kita lihat, kita pakai sebagai parameter, tetapi tidak sebagai palu hakim.

Saya punya contoh naskah  untuk menilai mana yang penting antara jumlah citasi dan dan bobot naskah. Disertasi saya pernah saya rangkum, diterjemahkan ke Inggris, dan diterbitkan lewat al-Jamiah tahun 2017 (edisi 2016). Secara bobot ilmiah, tentu artikel ini adalah artikel saya paling berbobot. Disertasi lho, masak ya nggak berbobot! 😀

Tetapi, nasib citasi naskah itu sungguh mengenaskan! Sampai 2020, tidak ada satu tulisan pun yang mengutip. Tetapi saya maklum. Pertama, artikel itu membahas topik yang super spesifik. Boleh dibilang, tidak ada orang menekuni tema ini: historiografi banyak, tetapi historiografi hukum Islam? Nil! 

Kedua, karena ditulis dalam bahasa Inggris maka tulisan itu juga mengurangi audien lokal. Jadi, untuk dibaca audien global, temanya terlalu spesifik. Tetapi untuk dibaca audien lokal, koq ya pakai bahasa Inggris. Nah, saya maklum semaklumnya.

Tidak lama ini, saya cek profil Sinta saya. Saya agak terkejut ketika artikel itu akhirnya ada yang mengutip di salah satu jurnal terindeks Scopus. Keren ini! Teriak saya dalam hati. Tetapi karena UIN Sunan Kalijaga nggak berlangganan Scopus (jangan tanya saya mengapa), saya belum tahu siapa yang mengutip. Saya pun minta tolong ipar saya yang kerja di universitas sebelah untuk mengecek. Ketemu. Dikutip oleh sebuah artikel di al-Jami'ah!

Haduh! Nggak jadi keren kalau gitu. Melihat air muka saya yang kecewa, dia lalu bilang, "Kabar gembiranya, artikel itu dikutip sebuah buku dalam Bahasa Belanda!" Tentu saja tidak terindeks Scopus.

Peduli amat dengan Scopus! Saya segera memburu buku itu. Bukunya berbahasa Jerman, ternyata. Judulnya: Nidergangsthesen auf dem Prüfstand (Narratives of Decline Revisited), (Frankfurt, 2020), Untungnya si penulis punya akun di akademia dan book chapter yang mengutip artikel saya itu dapat saya akses. 

Lebih membahagiakan lagi, ia mengutip serius tulisan saya sampai tiga kali. Nggak cuma sekilas di literatur review, maksud saya. Ia kutip untuk sebuah argumen terkait periodisasi sejarah hukum Islam, yang juga merupakan pokok bahasan disertasi saya. Saya seperti menemukan momen langka, "oh, akhirnya riset saya berguna!" 

Empat tahun saya menunggu hanya untuk satu kutipan penting seperti ini. Ini citasi yang di mata saya lebih penting dari puluhan yang saya peroleh dari artikel lain. Tidak teridneks Scopus? Ora popo! Bahkan karena dikutipnya dalam buku, saya cek juga belum terindeks Google Scholar. Hora penting! 

Jadi, boleh saja dan perlu memang kita itu melacak dan mengumpulkan citasi. Tetapi apa sih bahagianya kalau Anda titipkan artikel ke teman agar dicitasi? Apa bahagianya kalau Anda arisan citasi hanya demi mengejar H-indeks? 

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama