Hormatilah Mahasiswa yang Datang Terlambat


Itu adalah kutipan dari komentar mahasiswa saya tentang kuliah semester gasal. Semester ini, mungkin ada 5-15 orang yang saya tolak masuk kelas karena terlambat. Terdengar galak? 

Mungkin, tetapi saya tidak punya pilihan. Saya mengajar di lingkungan yang mayoritas dosennya datang terlambat (kalau nggak percaya, tanya Pak Wakil Dekan Fakultas Dakwah dan Pak Sigit). Jika saya dapat jam ngajar pagi, jam 7, di lantai 4, maka sepanjang ruang dan lantai yang saya lewati mayoritas kosong. Tak ada dosennya, apalagi mahasiswanya. Saya selalu datang paling tidak 5 menit sebelum kelas dimulai. Mungkin karena pukul 06:55 maka banyak yang belum datang. Tetapi, sering juga saya turun ambil spidol, berkas kuliah yang tertinggal di lantai 1, atau keperluan lain pada pukul 07.15-07:30, dan keadaan seperti itu tidak berubah. Mayoritas ruang kelas... kosong.

Ada tradisi lucu di kampus ini: MUFAKAT TELAT. Dosen dan mahasiswa sepakat untuk mundur dari jam yang telah ditetapkan. Informasi dari mahasiswa dan dosen menyebutkan bahwa kuliah mereka diundur Jam 7:30. Tetapi, tidak jarang juga saya temui, dosen yang bersanghkutan belum di kelas hingga pukul 08:00. Duh. 

Lebih lucu lagi, permufakatan telat itu dituangkan dalam kontrak belajar. Ada klausul yang bunyinya "Toleransi keterlambatan 15 menit." Anda tahu maksudnya? Sama seperti kesepakatan untuk mundur 30 menit, klausul "toleransi" itu ujung-ujungnya sama: dosen dan mahasiswa boleh telat! Bayangkan, kalau semua orang "taat" pada kontrak belajar, maka kelas pasti baru bisa dimulai pukul 07:15. Saking lazimnya klausul ini dalam kontrak belajar, sampai-sampai ada mahasiswa yang mengartikan "kontrak belajar" = "kontrak toleransi telat". Lha saya ini sudah punya kontrak belajar mengenai tugas, penilaian, dan proses belajar dianggap tidak punya kontrak belajar semata-mata karena saya tidak mau mencantumkan klausul toleransi. Duh.

Apakah saya terlalu gila tepat waktu? Terserah Anda menyebutnya. Tetapi berhadapan dengan kultur yang radikal telat, ya harus dilawan dengan cara yang radikal "punctual" atau radikal ontime. 

Masalahnya begini. Penggunaan gedung dan kelas di UIN itu sudah uyel-uyelan sampai ada satu fakultas yang pinjam kelas ke fakultas lain. Akibatnya, jarak antar waktu dari kelas pertama ke kelas kedua mempet sekali. Hanya 10 menit. Dosen-dosen yang mundur itu bilang bahwa mereka mengkompensasi keterlambatan mulai itu dengan kemunduran waktu selesai. Anda bisa terima argumen mereka?Ya, maksimal 10 menit! Siapa yang rugi?

Pertama, dosen yang akan memakai kelas tersebut kehilangan waktu sekian menit untuk memulai kelasnya. Ia juga harus ikut telat demi ketelatan koleganya.

Kedua, mahasiswa yang diajar si dosen telat. Kalau mahasiswa itu mahasiswa saya, dia bisa saya usir. Atau, kalau ia harus pergi ke Kampus seberang jalan untuk kuliah di Pusat Bahasa. Ah, lha turun dari Lantai 4 ke 1 saja bisa ngos-ngosan kalau mengejar waktu begitu koq...

Jadi, dalam konteks kepentingan bersama itulah saya mengambil posisi radikal soal tepat waktu saat kuliah. Dan perlu diketahui, saya hanya mengusir dari kelas mereka yang terlambat lebih dari 2 kali berturut-turut. Kalau tiga kali telat, itu bukan telat namanya, tetapi TELATAN. Dan hanya yang telatan yang saya usir. 

Bagi saya orang boleh telat kalau alasannya bisa diterima. Jangankan cuma 15 menit, 60 menit pun saya izinkan masuk kelas kalau ia telat karena bannya kempes, menolong orang tersesat, membela seorang cewek yang sedang dipalak preman, atau menunggui istrinya yang hendak melahirkan... Sungguh, saya tidak pernah --seperti kata kritik di atas-- "asal mengeluarkan ..." Tolong ingat "saya menghormati orang yang telat; tetapi bukan telatan."

Kita perlu jalan lain untuk menghormati ...

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama