Perjumpaan Pertama dengan Barat

Aku memang hanya tinggal selama 3 minggu di Montreal, tetapi, ini adalah pengalaman yang luar biasa dan "historis": pertama kali naik pesawat (ah malu aku), pertama kali pergi ke luar negeri, dan pertama kali berjumpa dengan "Barat" yang selama ini hanya ada di media dan buku yang aku baca, terra incognita

Bagaimana rasanya? tak terlukiskan tentu. Montreal dan McGill University mengajarkan banyak hal kepada saya.


Dari kuliah tentang community development sendiri, saya belajar banyak hal baik secara teoritis, di kelas bersam Jill Hanley, dan dari kunjungan ke layanan-layanan kesejahteraan sosial di Kanada. Rasanya nggak perlu dibandingkan dengan Indonesia, bukan kelasnya. Sesama negara maju saja, sebagai negara yang menganut social welfare, Kanada jauh lebih baik dalam melindungi kalangan miskin dan tak beruntung.

Ketika saya tanya darimana mereka memperoleh dana untuk sekolah gratis, rumah sakit gratis, layanan manula gratis, dan semua layanan sosial gratis? mereka menjawab, "Dari pajak". Ya, kalau kita bisa menjaga pajak kita utuh dari pembayar sampai kepada rakyat kembali, Indonesia juga pasti makmur. Tetapi, kita tahu, untuk sementara itu hanya mimpi...

Berikut adalah poin-poin terpenting yang saya catat dari tinggal di kota elok Montreal selama tiga minggu itu:

1. Montreal adalah kota yang sangat tertib. Antri naik bis saj, penumpangnya tertib bukan main. Berdiri berjajar rapi di pinggir jalan dan orang akan satu per satu naik bis sesuai urut antrinya (dari kanan ke kiri).

2. Tidak ada polusi di sini.... Meski banyak mobil dan nyaris tak ada sepeda motor, kota ini seperti di desa saja udaranya: sejuk dan segar.

3. Burung-burung dan tupai pun bebas berkeliaran tanpa khawatir ada orang yang menembaknya. Kalau kita sedang berjalan di halaman McGill, tupai-tupai cantik akan dengan senang hati mengfhibur kita dengan berloncat-loncat. Sementara burung-burung seagul beterbangan dan bersiul menciptakan suasana di tepi pantai.

4. Transportasi benar-benar nyaman dan mudah.... Tak perlu satu minggu, saya sudah bisa pergi ke bagian kota dimana pun tanpa perlu bertanya kepada manusia (papan petunjuk, rambu dan peta, bisa kita jumpai di mana saja dengan sangat mudah). Sistemnya benar-benar sudah mapan dan nyaris tanpa cacat.

5. Benarkah kita bangsa yang ramah? Kalau saya bandingkan dengan orang-orang di terminal Jakarta atau di terminal Semarang yang nggak bisa kita percaya kalau kita bertanya sesuatu, orang-orang Montreal, tak peduli di terminal atau di pasar, jauh lebih ramah dan bisa dipercaya.

6. Karena teman sekamar saya adalah dosen sekaligus kiai di banyak masjid di Jogja, kami dihadapkan pada pertanyaan yang benar-benar susah kami jawab, "kalau masyarakat sebaik dan setertib ini, lantas ajaran agama yang sangat kita perlukan untuk menyadarkan orang di Indonesia, akan kita letakkan dimana?"

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama