Sarapan


Kemarin, pas sarapan, ada teman bergabung di meja kami. Tetapi ia tidak ikut sarapan. Sambil memegang perut, ia bilang, "saya tidak terbiasa sarapan." Ini membuat saya bercerita tentang "sejarah" sarapan di keluarga kami. Saya terbiasa sarapan sejak kecil bukan karena kami keluarga priyayi. Sebaliknya, justru karena kami petani.

Para buruh tani, dan tentu juragannnya, butuh energi untuk bekerja di sawah. Karena itu kewajiban kami, para pemilik sawah, untuk menyediakan sarapan.

Pekerjaan saya saat libur sekolah, salah satunya, adalah mengirim sarapan ke sawah. Ini pekerjaan yang asik bagi saya daripada disuruh belanja dagangan toko kelontong kami. Asik main di sawah dan, yang lebih asik, ikut sarapan bersama para buruh. Sego lauk blendrang kates dan gerih saja nikmatnya berlipat dari sarapan apa pun di hotel.

***

Sarapan itu juga yang menjadi alasan ibu saya tidak pernah protes kalau bapak tidak ikut begadang saat anaknya ada yang semalaman menangis rewel karena sakit. Perempuan lain mungkin ada yang mikir, "Enak saja tidur sementara aku harus begadang. Suami macam apa itu!"

Ibu saya berpikir beda. Kalau bapak ikut begadang, nggak ada gunanya. Anak juga tidak sembuh, nangis juga nggak berhenti. Kalau beliau tidur duluan lebih bermanfaat, "Bapakmu tangi dhisik, ngaru, adang. Nyiapne sarapan."

Ya, sarapan itu bukan cuma nasi sepiring di meja. Bukan soal slow living dengan kopi secangkir. Sarapan itu proses panjang. Di dalam rumah tangga ia bisa mewakili banyak cerita. Demikian juga yang di meja saya ini. Dong po ra?

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama