Masjid Ramah Difabel


Judul buku:  
Masjid Ramah Difabel: Dari Dari Fikih ke Praktik Aksesibilitas 
Penerbit: LKiS (Yogyakarta) Tahun: September, 2019 
ISBN: 978-623-7177-15-9
Now available on Google Play Books
Dapatkan bukunya di LKIS

Buku ini sudah hampir setahun ditulis, promosi masjid ramah difabel lewat wacana sudah sejak tujuh tahun lalu, khutbah bahasa isyarat di UIN sudah sejak 2014, apakah masjid-masjid kita sudah mulai ramah difabel?

Kalau Anda menggunakan kata kunci "masjid ramah difabel", maka buku ini mungkin baru satu-satunya buku atau karya akademik yang khusus membahas masjid ramah difabel. Tetapi kalau soal bagaimana orang mulai menyambut gagasan masjid ramah difabel, kita sudah boleh bersyukur karena ada lebih dari 6000an entri di Google yang terkait dengan buku ini, dengan berita hak akses ibadah bagi difabel, atau tentang contoh-contoh masjid yang mulai berbenah diri menjadi masjid ramah difabel.

Salah satu masjid yang banyak diliput dalam berita itu adalah Masjid El-Syifa di Ciganjur. Masjid ini, bersama dengan dua masjid lain di Jakarta Selatan (1) mendapat liputan karena terkait program yang disponsori oleh So Nice dan Thisable Enterprise (organisasi yang dikomandani staf milenial presiden, Angki Yudistia). Saya baca, program ini menyasar akses pengguna kursi roda agar mereka bisa mengakses tempat wudu dan mencuci kursi rodanya agar bisa masuk ke dalam masjid. Entah bagaimana, Angki yang Tuli sepertinya belum memasukkan khotbah bahasa Isyarat dalam program masjid ramah difabel ini (2) 

Selain berita tentang Masjid El Syifa, ada kabar 'gembira' juga dari Muhammadiyah. Meskipun 'gembira' di sini bukan dalam arti Muhammadiyah sudah membuat masjid-masjid miliknya ramah bagi difabel, tetapi setidaknya kita bergembira sudah ada organisasi yang mendatangi dan meminta Muhammadiyah untuk peduli dengan hak akses ibadah difabel. Dalam pertemuan yang diinisiasi oleh Jakarta Barrier Free Tourism (JBTF), Muhamamdiyah pun sudah berkomitmen untuk membuat masjid-masjidnya ramah difabel (3)

Di Jogja sendiri, gerakan yang lebih luas pernah domotori oleh Dria Manunggal. Pada 2016, Dria Manunggal gencar mengampanyekan aksesbilitas ibadah tidak hanya untuk masjid, tetapi juga tempat ibadah yang lain.(4) Saya lupa belum tanya Pak Setyo bagaimana program itu berjalan dan hasilnya kini. Yang pasti, kita butuh pengingat terus, bahwa hak akses ibadah dalam wujud masjid ramah difabel itu harus terus disuarakan.

-----


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama