Melawan Mustahil


Judul buku: Melawan Mustahil: Kisah Sembilan Difabel Melewati Batas Kemungkinan
Penerbit: Magnum Pustaka Utama (Yogyakarta)
Tahun: 2019
ISBN: 978-602-5789-50-2

Difabel, karena kondisi fisik dan mentalnya yang berbeda dengan mereka yang “normal”, seringkali dipandang memiliki kemampuan di bawah “normal”. Pandangan ini tentu saja tidak berdasarkan pada fakta dan lebih didasarkan kepada prasangka “normalitas” -- atau yang sering disebut “bias normal” oleh para aktivis gerakan difabel. Bias normal bersumber dari cara pandang yang melihat bahwa kurangnya, hilangnya, atau tidak berfungsinya salah satu atau beberapa anggota tubuh membuat manusia menjadi “tidak normal”. Menjadi “tidak normal” saja belum cukup, pada gilirannya mereka juga dianggap “tidak mampu” (disabled).

Riset menunjukkan bahwa pandangan-pandangan yang menyepelekan difabel, menganggap difabel tidak mampu, seringkali bersumber pada apa yang disebut sebagai “unconscious bias”. Sepertiga orang di Inggris menganggap difabel tidak seproduktif orang lain. Dalam kasus yang mereka teliti, para peneliti menyimpulkan bahwa:

The results demonstrate an alarming level of bias against disabled people and that despite the apparently positive impact the Paralympic Games has had on public attitudes towards disabled people, this may not translate into the unconscious perceptions and biases that influence decisions.

Bias yang tidak disadari itu dapat melahirkan kebijakan-kebijakan yang merugikan kaum difabel. Mulai dari kebijakan yang melahirkan eksklusi sosial, diskriminasi, hingga pengabaian hak-hak dasar sebagai manusia. Salah satu bias yang paling umum berkembang adalah bahwa difabel tidak akan mampu menjadi siswa/mahasiswa yang berhasil. Sebab, menurut “bias” ini, mahasiswa difabel tidak akan mampu melaksanakan tugas-tugas ke-laboratorium-an, mahasiswa tunanetra tidak akan mampu menyelesaikan tugas-tugas membaca buku kuliah dan menulis makalah, dan bahwa mahasiswa Tuli tidak akan mampu lulus matakuliah public speaking dan lain-lain.

Sebagian bias itu bahkan telah menjelma menjadi kebijakan, menjadi semacam institutionalized bias. Di Indonesia, selama bertahun-tahun para difabel yang ingin melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi harus berbenturan dengan bias-bias terlembaga ini dalam bentuk persyaratan admisi yang mencantumkan ketentuan “tidak boleh difabel.”

Jika bukan karena bias, apa alasan yang mendasari bahwa seorang tunadaksa tidak boleh menjadi ahli farmasi? Apakah pengguna kursi roda, atau kruk, akan gagal menjalankan pekerjaan sebagai ahli farmasi? Selain di Universitas Indonesia, syarat anti difabel juga masih berlaku di Institut Teknologi Bandung. Di laman admisi ITB, tersedia satu halaman khusus untuk mencegah penyandang buta warna mendaftar ke berbagai prodi.

Buku ini betujuan mengumpulkan kisah inspiratif para difabel yang berhasil di berbagai bidang. “Berhasil” di sini tentu istilah yang kami gunakan selentur mungkin. Sedangkan “inspiratif” kami gunakan tidak untuk membuat mereka istimewa dengan disabilitasnya, melainkan istimewa karena perjuangannya menaklukkan hambatan-hambatan yang mencacatkan (disabling) di dalam masyarakat kita.

Harapan Kami, kisah mereka dapat membuka mata Kita yang belum mengenal dunia para difabel. Seringkali ketidaktahuan menjadi penghalang yang “mendisabelkan” (disabling). Kisah mereka hanya awal, akhirnya adalah perubahan pada Kita semua, semoga.


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama