Twitter = Micro Blogging < Blog ≠ Jejaring Sosial

Wartawan punya kekuatan "mencipta wacana", dan karena itu, wartawan perlu lebih berhati-hati dalam menggunakan "wacana". Tidak seperti orang biasa yang boleh asal niru dan latah, wartawan perlu lebih dahulu check and recheck apa arti sebuah istilah.

Contohnya: sebuah running text di TVone hari ini menulis, kurang lebih, "Mbah Surip jadi topik paling panas di situs jejaring sosial Twitter". Waduh! Plz deh! Twitter bukan Facebook! It's kinda different thing! Belum ada terjemahannya di Indonesia, but they like to call it MICRO-BLOGGING (saya usul terjemahan: blogpen, alias "blog pendek"). Apa itu?


Dalam definisi Wikipedia, micro-blogging adalah:
... a form of multimedia blogging that allows users to send brief text updates or micromedia such as photos or audio clips and publish them, either to be viewed by anyone or by a restricted group which can be chosen by the user. These messages can be submitted by a variety of means, including text messaging, instant messaging, email, digital audio or the web.
The content of a micro-blog differs from a traditional blog in that it is typically smaller in actual size and aggregate file size. A single entry could consist of a single sentence or fragment or an image or a brief, ten second video. But, still, its purpose is similar to that of a traditional blog. Users micro-blog about particular topics that can range from the simple, such as "what one is doing at a given moment," to the thematic, such as "sports cars," to business topics, such as particular products. Many micro-blogs provide short commentary on a person-to-person level, share news about a company's products and services, or provide logs of the events of one's life.
Jadi, micro-blogging itu lebih mirip dengan blog daripada social network seperti Facebook. Di Twitter, kita hanya boleh menulis 140 karakter. Di blog, kita menulis sepanjang yang kita suka. Dalam social-network, saat kita menjadi "friend" si A, otomatis A menjadi friend kita. Di Twitter, seorang saat ada orang menjadi follower kita, kita bisa menentukan untuk menjadi follower dia atau tidak. Demikian pula tidak ada kewajiban bagi orang yang kita ikuti untuk menjadi pengikut kita.

Oleh sebab itulah, para selebritis lebih menyukai Twitter daripada Facebook. Karena di Twitter, ia tak harus tahu apa yang dipikirkan dan dilakukan orang yang tak ia kenal. Di Facebook, kalau ia punya 1000 fan yang jadi friend, maka facebook-nya akan penuh dengan update yang bagi dia tak lebih hanyalah "sampah".



1 Komentar

  1. Dan Twitter tidak cocok untuk orang yang tidak populer seperti saya. Ngga ada yang follow! Hahaha.

    BalasHapus

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama