Catatan Bangkok: Masjid Jawa

Sebelum berangkat ke Bangkok, saya sudah merencakan untuk berkunjung ke Masjid Jawa. Tetapi begitu waktu berlalu tiga hari dan belum sempat juga ngelayap malam, saya jadi ragu bisa mampir ke tampat penting itu. Jarak hotel saya ke pusat kota Bangkok lumayan jauh dan Bangkok itu setingkat Jakarta dalam hal macet. Jadi, saat jatah saya tinggal satu setengah hari di Bangkok, saya harus berpikir prioritas. Masjid Jawa bukan prioritas.

Kalau Anda search google image, ada beberapa landscape Bangkok yang penting: Grand Palace tempat raja Bangkok dan Kuil Emerald Budha berada, Wat Po tempat patung raksasa Budha sedang 'leyeh-leyeh', dan tentu saja Wat Arun, kuil dengan bentuk seperti stupa raksasa yang megah di seberang sungai Chao Praya.  Dalam rencana perjalanan prioritas itu: pagi di Grand Palace, Siang di Wat Po, sore sampai Maghrib di Wat Arun. Setelah itu mungkin kembali ke hotel dan menikmati malam di sekitar Victory Monument, lokasi hotel saya.

Rencana, hanya saja, tidak selalu sesuai dengan kenyataan. Setelah capek keliling Grand Palace dan mengeksplorasi Wat Po, saya segera meluncur ke tepi sungai Chao Phraya. Saya berharap dapat momentum sunset seperti dalam foto-foto wisata itu.
Wat Arun (Sumber: Flick-r)
Sayangnya. I am not that lucky. Wat Arun sedang direnovasi dan dari seberang sungai kulihat besi-besi konstruksi menyelemutinya. Kecewa. Tapi mau apa? Saya segera mencari tujuan alternatif, dan Masjid Jawa kembali menjadi destinasi. Saya segera cek google map dan navigasinya untuk melihat kemungkinan ke Masjid Jawa. Nah. Serunya, salah satu jalur yang bisa saya tempuh untuk ke Masjid Jawa menurut Google adalah, selain taxi, menggunakan perahu menelusuri Chao Phraya.

Untuk mengkonfirmasi keterangan Google, saya tanya orang-orang (yang saya duga bisa ditanyai) di Yodpiman Riverwalk sampai akhirnya saya dapat konfirmasi untuk bisa naik dengan salah satu perahu wisata di situ. Saya sudah riset sebelum ke Bangkok untuk tidak menggunakan perahu ini karena terlalu mahal dibandingkan dengan kalau kita naik perahu 'angkutan umum'. Tapi saya tidak punya pilihan dan toh Bangkok adalah kota yang serba murah dan terjangkau dibandingkan Jakarta. Saya naik perahu itu menuju kawasan Sathon (yang ternyata salah. hiks)

Sempat juga naik perahu di Bangkok, akhirnya.
Sesampai di dermaga tujuan, saya langsung lacak lagi posisi lewat google map. Duh. GPS-nya nggak konek juga. Saya akhirnya menggunakan cara manual: tanya orang. Satu, nggak bisa bahasa Inggris. Tanya satu lagi, nggak bisa bahasa Inggris. Sampai akhirnya yang ketiga, ada anak SD di dermaga itu yang justru bisa Bahasa Inggris dan bisa menunjukkan lokasi kawasan Sathon itu dimana.

Karena masih jauh, saya harus naik kereta BTS (semacam KRL) ke Stasiun Surasak. Belum pernah naik BTS sebelumnya, ya tanya sana sini lagi. Saat mau naik kereta, ada dua cewek berjilbab yang dalam dugaaan saya bisa ditanya... Sayang sekali. They don't speak even one English word. Bahasa Isyarat lah yang saya pakai. Saya buka Wikipedia tentang masjid Jawa dan saya tunjukkan ke dua cewek itu. Sepaham saya, mereka membenarkan tujuan saya ke Stasiun Surasak dan menunjukkan saya dimana saya harus naik.

Sesampai di Surasak, kebetulan ada cewek berjilbab (lagi). Kalau kata statistik ada 5% penduduk Thailand yang Muslim, maka wajar saja jika sesekali kita menemukan orang Muslim di Bangkok. Nah, berbeda dengan dua cewek sebelumnya, yang ini pinter Bahasa Inggris dan dengan lancar, cetho, menunjukkan kemana saya harus berjalan, di gang mana saya harus berbelok untuk menuju masjid yang letaknya di tengah perkampungan miskin di Bangkok itu.


Saya segera menelusuri jalan utama, belok kiri, ketemu Seven Eleven, dan memasuki gang-gang yang sangat mirip dengan kota-kota besar di Indonesia. Dari yang selebar satu depa hingga selebar satu mobil, kiri-kanan rumah-rumah petak, dan anak-anak bermain berlarian atau bersepeda mini.


Saya masih sempat bertanya sekali lagi di sebuah warung makan yang penjualnya berjilbab. Ia tunjukkan arah dan bahkan mengizinkan saya mengambil jalan pintas lewat dalam warung dan menerobos dapurnya.

Tiba di masjid jam 17.30 saya segera shalat Asar dan Zuhur. Ada beberapa orang di situ. Satu sedang bersih-bersih, dua sedang mengobrol, dan satu duduk sendiri di emper. Sehabis shalat, saya menghampiri dua orang yang mengobrol itu, memperkenalkan diri dari Indonesia dan nama saya. Meereka adalah Pak Syafi'i dan Mat Nur. Sayangnya, pembicaraan tak bisa berlangsung karena mereka tak bisa bahasa Inggris sama sekali. Salah satunya, Pak Syafi'i, mencoba sepatah dua patah bahasa Indonesia.

Tak banyak yang bisa saya gali dan karena belum makan saya tanyakan ke mereka dimana ada warung halal. Kira-kira 100 meter dari masjid, ada warung makan halal yang saya pilih. Letaknya di samping apartemen dan seluruh pengunjungnya bule-bule expat.


Setelah makan, saya kembali ke masjid karena suara adzan dan disusul iqamah telah berkumandang. Ada tiga shaf pria dan saya tidak melihat banyak wanita yang berjamaah di masjid. Sehabis shalat, seperti kultur NU, imam memimpin dzikir dan do'a.


Setelah jamaah Maghrib bubar, saya tunggu aktifitas selanjutnya di masjid. Satu per satu anak-anak berdatangan ke masjid, baik jalan kaki atau di antar orang tua mereka dengan sepeda motor. Di depan masjid, ada beberapa deret bagku yang digunakan untuk sekolah diniyah. Anak-anak usia SD-SMP ini, menurut informasi salah satu jamaah, belajar mengaji dan shalat di situ. 


Ada banyak hal sebenarnya yang ingin saya gali tentang masjid ini. Sayangnya keterbatasan bahasa membuat saya hanya bisa mengamati apa yang terjadi saja. Saya sempat bertemu dan ngobrol dengan satu orang jamaah lagi. "Aku iso Jowo, tapi kasar." kata bapak itu Kami mengobrol beberapa hal seperti jumlah jamaah yang berkurang karena banyak yang pindah lokasi, orang tuanya yang meninggal di Arab Saudi, dan asal-usulnya dari Pemalang. Nothing more. Tetapi cukuplah sebagai kunjungan singkat berharga yang siapa tahu akan disusul kunjungan lagi kelak.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama