Catatan Bangkok: Kisah Tiga Orang Buta dan Saya.

Pernah dengar kisah tiga orang buta dan gajah? Meski kisah ini terjadi di Thailand yang dikenal sebagai negeri gajah, justru tidak ada gajah dalam kisahnya. Di kota Bangkok, sayalah yang menggantikan gajah dan berurusan dengan tiga orang buta itu.

Saya, Sugiyo dan Rahim. Wiraman tidak ikut foto. 
Seperti lazimnya kita menginap di hotel, makanan yang biasa dipaketkan adalah makan pagi. Makan malam? Beli sendiri di restoran hotel atau keluar. Malam itu kami memilih makan keluar. Sudah dua hari kami makan masakan hotel ini dan sungguh nggak ada yang enak. Jadi, daripada makan nggak enak dan mahal, mending makan di luar. Kalau pun tidak enak, yang pasti adalah lebih murah :)

Saya tinggal sekamar dengan Pak Sugiyo, tunanetra dari Indonesia. Di kamar sebelah saya, ada dua tunanetra lainnya: Rahim dari Malaysia dan Wiraman dari Thailand (yang juga ketua panitia conference.)

Nah, karena tempat makannya agak jauh dari hotel, di salah satu food court di kawasan itu, kami pulang pergi naik taksi. Saat kami berjalan, sayalah yang paling depan sebagai mata mereka. Wiraman yang orang Thailand memegang pundak saya sekaligus sebagai juru bicara karena saya yang tak bicara Thai sama saja dengan tunawicara.

[FYI: saat Anda berjalan dengan orang buta, jangan pernah tuntun mereka. Biarkan mereka yang aktif memegang lengan atau pundak Anda]

Maka berjalanlah kami beriring-iringan. Saya, Wiraman, disusul Rahim, dan Sugiyo. Kami belum tahu mau pergi kemana. Wiraman juga tidak tahu. Koq bisa? "I don't know... this is not the area I live." Kilahnya. Maka kami putuskan untuk tanya resepsionis hotel. Seperti saya bilang tadi, saya yang terdepan. Tetapi begitu saatnya bicara, saya diam dan membiarkan Wiraman yang ambil alih. Wiraman. tun tun tun tun... Entahlah apa yang mereka bicarakan. Yang jelas, kami tanya dimana kami bisa keluar makan.

"Oke. We go to..." Wiraman menyebut tempat, namanya aneh, aku nggak paham, dan juga nggak peduli. Ah yang penting makan kan?

Setelah dipanggilkan taksi, maka berangkatlah kami keluar makan malam di salah satu sudut kota Bangkok. Sungguh, saya tidak tahu namanya dan tempatnya. Pokoknya makan :p

NO TIP

Kami makan sesuai pilihan kami. Tentu saja saya pilih Tom Yam, makanan favorit yang biasa saya pesan di Restoran Puket Demangan atau Lempuyangan. Pingin tahu sih lebih enak mana antara yang di Jogja atau di Bangkok. Malam sebelumnya, saat welcoming dinner, kami juga diberi sajian Tom Yam di sebuah restoran keren, tetapi dari segi rasa lebih enak yang di Demangan :)

Nah untuk Tom Yam yang ini, lumayan lah. Pas dan cocok di lidah. Lebih enak dari masakan hotel. Selain Tom Yam, di meja ada Pad Thai dan nasi goreng.

Sehabis makan, kami segera membayarnya. Makan berempat, kami habis 800 Baht. Saat kami coba memberi tip, si pelayan menolaknya. Pakai bahasa Thai dan diterjemahkan oleh Wiraman, "She said no because she likes you, you've been taking care of us." Ah gitu ya. Haru.

ANOTHER WOMAN TO THANK

Kami lalu keluar meninggalkan restoran itu. Dalam formasi yang sama. Saya, Wiraman di belakang memegang pundak, dan dua orang buta lainnya. Begitu keluar, saya bingung harus membawa mereka kemana untuk cari taksi. Ada anak muda di situ dan saya minta Wiraman bertanya. tun tun tun tun. Mereka bicara Thai.

Aku ndak paham apa yang bicarakan dan anak itu menunjukkan jari mencoba bicara kepadaku. "Taksi, Taksi, Taksi" dengan nada, menurutku, agak kesal. Ia menujuk ke arah Taksi yang sedang parkir di depan restoran dan kap mesinnya terbuka. Aku ragu Taksi itu mau menganggkut kami.

Benar dugaanku. Wiraman kembali jadi juru bicara. Sopir Taksi tidak bisa mengantar kami karena mobilnya mogok. Ia menyarankan agar kami berdiri saja di pinggir jalan dan menghentikan taksi yang lewat.

Satu. Dua. Tiga. Empat taksi lewat. Tidak ada yang mau berhenti walau pun tanganku sudah melambai lambai.

Kami hampir menyerah sampai kemudian kulihat mbak-mbak berjalan mengarah kepada kami. Kubisikkan kepada Wiraman untuk berbicara kepada wanita itu. "There is a woman walking to our direction, can you ask her where we can get a taxi"

Sebelum Wiraman bicara, kucoba menghentikan wanita itu, "Hi, sorry, do you speak English?" Dia berhenti dan tersenyum, "Yah. How can I help you?" Meski dia sudah menjawab bisa Bahasa Inggris, Wiraman lalu bicara dalam bahasa Thai. Tun tun tun tun.  Entah apa yang mereka bicarakan tetapi wanita itu tampak mengambil HP dan menelpon. Mungkin perusahaan taksi.

Beberapa saat, dan tidak berhasil. lalu ia bicara lagi dengan Wiraman dalam bahasa Thai sambil pencet-pencet HP Samsungnya. "She is trying to contact a taxi driver using an app called GrabTaxi." Dan tampaknya berhasil. Saya ikut melihat layar smarphone-nya dan tampak di situ ada sebuah taksi yang tak jauh dari tempat kami siap mendekat.

Sambil menunggu, saya ajak ngobrol dia. Bahasa Inggrisnya bagus dan sekitar lima menit kami bicara beberapa hal. Siapa kami. Dari mana. Ada acara apa. Seberapa sering ia gunakan aplikasi GrapTaxi dan seterusnya. Ia menemani kami menunggu hingga taxi yang dipanggil datang menjemput kami.

TAKSI JUJUR

Saya pernah baca kisah orang-orang jujur di status Ainul Yaqin (di Jepang) dan Muhibudin (di Sukarno Hatta). Ini kisah orang jujur di Bangkok yang sangat mirip dengan cerita Ainul Yaqin soal sopir taksi di Jepang.

Untuk kembali ke Hotel, kami tidak bisa begitu saja menggunakan jalur berangkat tadi. Jalur itu ada di bawah proyek konstruksi jalan tol di atasnya. Kami perlu memutar arah (U-turn) di satu titik dan kembali melalui jalur di seberang jalan tol yang sedang dibangun. It's complicate in nature. Karenanya, si sopir segera menyalakan hape dan navigasinya.

Saya tidak tahu aplikasi yang digunakan sopir itu. Setelah sekian menit kami belum sampai ke hotel, aku buka google map untuk melihat lokasi kami. Aku curiga sopir ini akan mencurangi kami karena saat berangkat tadi kami cuma membayar 40 baht. Ini sudah hampir 55 baht koq belum ada tanda-tanda mendekat. Saya bilang ke Wiraman (dengan asumsi si sopir tidak bisa bahasa Inggris) bahwa kita salah arah.

Wiraman tidak ragu-ragu lagi untuk bertanya kepada si sopir dalam bahasa Thai bahwa kita salah jalur. Si Sopir tampak gugup dan segera mengecek navigasi Hapenya. Ternyata navigasi-nya yang salah. Akibat konstruksi jalan tol itu, informasi yang di HP menjadi tidak akurat dan kami memang salah arah. Si sopir tampak berusaha menjelaskan bahwa ia tidak punya niat jahat dan benar-benar salah jalur karena terlalu percaya kepada navigasi smartphone.

Sesampai di hotel, argo menunjuk angka 110 baht. Nyaris tiga kali tarif yang kami bayar saat berangkat. Saat aku serahkan uang 100 dan siap kutambah 10, ia menolak dan justru memberi kembalian 60 baht! "Itu tadi salahku, jadi kamu nggak harus menanggung tarif lebihnya!" Bbuih,keren nggak?




Post a Comment

Lebih baru Lebih lama