Catatan Bangkok: Keberangkatan

Saya pergi ke Bangkok untuk memenuhi undangan Ratchasuda College di Mahidol (baca mahidon) University. Kisah pusat layanan difabel pertama di Indonesia yang sekarang saya pimpin terdengar sampai ke Bangkok dan mereka meminta saya untuk berbagi pengalaman. Website conference bisa dicek di sini

Saya meninggalkan Jogja pagi-pagi sekali. Penerbangan pertama Garuda pada jam 6. Cuaca cerah memberi suasana yang pas untuk memulai perjalanan jauh. Menatap dari jendela tempat duduk, saya tak pernah berhenti kagum dengan negeri ini. Meski berkali-kali saya melewati jalur terbang Jogja-Jakarta, tak pernah jemu saya memandang kecantikannya. Sekian menit dari Jogja, pagi mengingatkan saya  untuk segera mengambil kamera dan mengabadikannya. Indah sekali, bahkan ketika di atas awan sekalipun.

Trio Sumbing Sindoro Dieng
Saya menunggu dua jam di Jakarta untuk melanjutkan penerbangan berikutnya. Mumpung waktu longgar, saya sempatkan untuk mencoba "auto gate" yang sempat bikin hebih itu. Entahlah, saya tidak punya nama Muhammad dan saya kira saya juga tidak akan bermasalah melewati 'gerbang negeri' kita itu. 

Masalahnya ternyata... antrian cukup panjang. Dua jalur autogate itu tidak lebih cepat dari jalur stempel di sebelah kirinya. Jadi, saya putuskan untuk mencoba autogate lain kali saja [semoga saja ada yang mengundang lagi ke luar negeri :) ]

Pesawat berangkat dari SHIA dan tiba di Bangkok Suvarnabhumi sesuai jadwal. Saya janjian dengan penjemput dari panitia konferensi di Gate 1. Setelah berjalan lumayan jauh (dari Gate 9), sampailah saya di "meeting pint" yang dijanjikan. Saya kira saya sendirian saja. Ternyata sudah ada 4 orang undangan lain yang berkumpul dan sudah tiba lebih dulu, dua dari Filipina, satu dari Cambodia, dan satu dari Myanmar.

Kami segera ke mobil penjemputan. Melihat dan kemudian naik mobil itu saya jadi ingat pas jadi panitia dan harus menjemput tamu dari luar. Kita selalu usahakan mendapatkan mobil yang senyaman mungkin dan di sini nyaman itu artinya adalah mobil van semisal ini. Lumayanlah, untuk perjalanan hampir 1 jam ke hotel yang lebih dekat ke Don Muang, mobil ini nyaman dikendarai.

Sebelum berangkat, saya sebenarnya sudah berencana untuk memanfaatkan malam pertama untuk mengeksplorasi Bangkok. Saya juga sudah cek di google map bahwa posisi hotel ini cukup jauh dari pusat kota. Maka, karena masih capek dan jauh, saya putuskan untuk istirahat saja di hotel. Satu-satunya yang bisa saya lakukan barulah jalan-jalan di lingkungan dan cari kartu SIM.

Saya sudah google sebelum berangkat operator apa saja yanga da di Thailand dan paket apa saja yang mereka tawarkan. Hasil survei google menunjukkan bahwa kartu GSM terbaik di Thailand yang cocok untuk turis seperti saya adalah paket Smart Traveler dari AIS. Kalau kita beli di Bandara, yang tersedia hanya paket 1,5 GB seharga 300 baht. Tetapi kalau beli di Sevel, kita bisa dapat paket 500mb seminggu seharga 200 baht. Sampai hari terakhir kembali ke Jakarta, paket itu masih sisa 100 mb. 

Tepat di seberang hotel, untungnya, ada Sevel. Dan kalau ngomongin Sevel di Thailand itu tampaknya seperti Indomaret dan Alfamart saja. Dalam jarak 200 meter pun sudah ketemu Sevel lagi dan Sevel lagi.

Pelayannya ngomong Inggris dikit banget. Komunikasi pun kami sambung dengan bahasa isyarat. Intinya saya mau kartu AIS. Dan ia tunjukkan satu box kartu yang bisa saya pilih. Paket yang saya kehendaki, untungnya, ada di situ. Satu-satunya setting yang secara manual harus dilakukan adalah pada APN. Ikuti saja petunjuk yang ada di bungkus SIMcard.

Saya jadi ingat juga saat tahun lalu saya mengelola 10 mahasiswa Asutralia di sini. Satu hal yang tidak saya antisipasi adalah pentingnya kartu Simcard. Tahun ini saya akan siapkan SIMcard sebagai bagian dari layanan untuk mereka. Ini zaman gadget. Mestinya kita tidak melupakan pentingnya koneksi internet seperti ini kan :(

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama