Los Angeles Diary (3): Melihat Pemilu Amerika

Ternyata ada enam calon presiden. Bukan dua :D

Lima tahun lalu, ketika Obama terpilih, saya sudah pulang ke Indonesia. Saya hanya bisa mengikuti kampanyenya yang seru. Tahun ini, saya punya kesempatan yang seperti melanjutkan apa yang dulu belum selesai. Saya datang tepat pada saatnya: hari pemilu saya pas di sini. 

Kalau tidak sempat datang ke TPS, isi dan kirim dengan amplop ini via pos
Tuan rumah saya barusan menerima surat suara. Di sini, pemilih bisa mengirimkan lewat pos karena coblosan dilakukan hari Selasa dan tidak libur. Karena itu, surat suara dikirim via pos dan bisa dipilih di rumah. Jadi, tidak ada yang rahasia banget di sini. Pak Mark bahkan mau mendiksuiskan pilihan-pilihannya dengan saya dan beradu argumen ketika pilihan kami jatuh pada hal-hal yang berbeda.

Oh ya, saya menyebut pilihan-pilihan karena semua coblosan dilakukan pada saat yang sama. Tidak seperti kita yang diselenggarakan dalam beberapa tahap, pemilu di sini sekaligus coblosan untuk banyak hal. Ada dua lembar dan ada lebih dari 40 "soal" yang harus dijawab (tergantung negara bagiannya).

Jadi, selain memilih presiden dan para politisi (anggota DPR, DPRD, dan DPD, walikota, gubernur), pemilu juga meminta pemilih untuk mencoblos "ya" (yes) atau "tidak" (no) untuk isu-isu yang sedang diperdebatkan, misalnya apakah marijuana dibolehkan atau tidak, hukuman mati dihapus atau tidak, dan beberapa isu penting lain yang berakibat pada perubahan (amandemen) terhadap konsitutusi negara bagian.

Menarik? Mungkin cuma perbedaan, but we can learn from it :)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama