Los Angeles Diary (1) Aksesisbilitas Masjid


Mencari masjid. Ya, saya sudah memikirkan sejak dari Indonesia untuk mengunjungi masjid-masjid di Los Angeles. Tentu kali ini bukan saja soal dimana saya bisa shalat Jumat, tetapi juga bagaimana aksesibilitas tempat ibadah di sini yang merupakan isu penting dalam gerakan difabilitas.

Pak Mark Cammack, tuan rumah yang luar biasa membantu kami, mengajak kami ke salah satu Islamic Center di LA, The Islamic Center of Southern California. Mark kenal baik dengan salah satu pendiri Islamic center ini dan tempat ini juga hanya beberapa blok dari Southwestern Law School.
Gedungnya cukup bagus dan ram tersedia di depan sehingga mereka yang menggunakan kursi roda bisa mengakses masjid dengan mudah. Di samping kiri gedung terdapat tempat bermain anak-anak yang cukup luas dan tempat parkir jamaah.

Sayangnya, hari itu masjid tutup. Di pintu tertulis bahwa pada akhir pekan masjid hanya buka 15 menit sebelum waktu shalat dan kami datang tidak pada jam shalat sehingga kami tidak bisa masuk ke dalam untuk melihat isi masjid dan bertemu pengurusnya.

Akhirnya, kami memutuskan untuk ke masjid lain yang mungkin bisa kami kunjungi. Mark mengajak kami ke Masjid Omar bin al-Khattab di lingkungan kampus USC (University of Southern California).

Berbeda dengan Islamic Center, kali ini kami "benar-benar" ke masjid, itu jika masjid harus punya kubah dan menara (ha. masjid-masjid di desa kita juga banyak yang tidak punya kubah dan menara ya?). Masjid Omar sangat megah dan dengan ruang parkir yang luas. Begitu masuk, kami disambut seorang penjaga yang dengan ramah membiarkan kami untuk melihat-lihat seluruh bagian masjid. Mulai dari tempat shalat (tentu), sampai dengan toilet dan tempat wudu (kami dilarang mengambil gambar di dalam).

Saya mengatakan seluruh bagian masjid karena masjid-masjid di Amerika juga seringkali berfungsi lebih dari sekedar tempat shalat seperti masjid-masjid di Indonesia. Masjid Omar terdiri atas tiga lantai dan satu basemen. Di basement sendiri terdapat ruang untuk wudu, hall untuk buka bersama dan kegiatan makan-makan lainnya. Di bagian atas terdapat beberapa ruangan untuk sekolah dan pendidikan agama yang diantaranya diselenggarakan dalam bahasa Spanyol.

Berbeda dengan Islamic Center, tidak ada ram di bagian-bagian akses penting masjid ini. Pengguna kursi roda juga tidak bisa mengakses tempat wudu yang terletak di basement. Tetapi, ada satu hal yang menarik: di bagian depan shaf bagian kiri, terdapat sekitar sepuluhan kursi, ditata dua baris, yang disediakan khusus untuk difabel. Jadi, mungkin kami tidak tahu saja dimana pintu masuk mereka (besok akan saya cek lagi kalau bertemu dengan pengurusnya ya).


Detail dari hal-hal ini akan saya tulis nanti di laporan penelitian :D

2 Komentar

  1. Di sana mendirikan mesjid perijinannya susah nggak sih? :D

    BalasHapus
  2. nop. no need. you can pray in a church even if you want.

    BalasHapus

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama